Media Duta,- Banyak yang membela: "Dia itu cuma sopir, bukan pemiliknya. Jangan dihujat."
Oke. Mari kita luruskan.
Kita tidak peduli kau siapa, Didi. Mau kau pemilik Alphard-nya, mau kau sopirnya, mau kau yang disuruh bos ambil pesanan, itu tidak penting.
Yang kita lihat adalah PERBUATANMU.
Kau menghancurkan motor orang dengan batu. Berkali-kali. Di depan mukanya. Sambil mengancam mau memukul orangnya.
Itu bukan perbuatan bos atau sopir. Itu perbuatan orang yang merasa dirinya lebih tinggi karena sedang duduk di dalam Alphard.
Itulah racunnya. Racun Alphard.
Begitu pantatmu menempel di jok Alphard, kau merasa jalanan itu milikmu. Begitu tanganmu memegang setir Alphard, kau merasa semua motor di sebelahmu itu hama yang harus disingkirkan.
Kalau kau memang pemiliknya, pertanyaan kami: sehina itukah mental orang yang katanya sukses? Sampai spion lecet sedikit harus dibalas dengan menghancurkan mata pencaharian orang?
Kalau kau memang cuma sopirnya, pertanyaan kami lebih keras: sesama kuli kau tega menginjak kuli lain? Kau yang juga disuruh-suruh, yang juga hidup dari upah, kok bisa sekejam itu pada ojol yang nasibnya sama denganmu?
Justru kalau kau sopir, kau harusnya paling paham. Kau paham rasanya dimarahi bos kalau mobil lecet.
Mulyadi juga paham rasanya dimarahi istri kalau setoran tidak cukup karena motor rusak.
Kau dan Mulyadi itu sama. Sama-sama sedang bekerja. Sama-sama sedang mengejar waktu untuk balik ke kantor, untuk ambil pesanan.
Bedanya cuma satu: kau bekerja di dalam AC, dia bekerja di bawah terik matahari. Kau bekerja dengan dasbor mewah, dia bekerja dengan jaket yang bau keringat.
Lalu kenapa kau merasa berhak menghancurkan miliknya?
Jawabannya cuma satu: KARENA KAU MERASA POSISIMU DI ATAS.
Karena kau di dalam Alphard, dan dia di atas motor butut.
Kau pikir Alphard itu adalah kasta. Padahal Alphard itu cuma mobil. Besi. Sama seperti motor Mulyadi, besi.
Yang membedakan bukan kendaraannya. Yang membedakan adalah hati orang yang mengendarainya.
Dan hari itu, di Jalan IKPN Bintaro, kita melihat dengan jelas: hati yang berada di dalam Alphard itu jauh lebih butut daripada motor ojol yang kau hancurkan.
Apapun statusmu, Didi. Bos atau sopir. Kau tetap tidak pantas.
Karena adab tidak dilihat dari apa yang kau kendarai, tapi dari bagaimana kau memperlakukan orang yang tidak punya apa-apa untuk melawanmu.
Mari jadikan kejadian ini sebagai cermin untuk kita semua. Dan semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan sikap arogan. Aamiin.(*)

Posting Komentar untuk "MAU BOS ATAU SOPIR, AROGAN TETAP AROGAN"