Media Duta,- Pemimpin Yang Gugur Tidak Memadamkan Perlawanan, Justru Menyalakan.
Dalam banyak fase sejarah Islam, gugurnya seorang pemimpin bukan selalu
akhir dari perlawanan. Justru sebaliknya:
" Darah para tokoh sering berubah menjadi bahan bakar yang mengikat emosi, keyakinan, dan kemarahan kolektif umatnya....."
Lihat Perang Mu’tah pada tahun 629 M. Tiga panglima Muslim gugur berurutan, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, lalu Abdullah bin Rawahah.
Secara militer itu pukulan besar. Tetapi yang lahir bukan kepanikan total. Pasukan tetap bertahan, barisan tidak runtuh, dan peristiwa itu justru dikenang sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan daya tahan umat ketika para pemimpinnya tumbang di medan tempur.
Pola yang sama berulang dalam sejarah Islam setelah tragedi Karbala tahun 680 M. Gugurnya Husain bin Ali tidak menghapus pengaruhnya.
Sebaliknya, peristiwa itu hidup selama berabad-abad sebagai memori perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap zalim. Dalam dunia Islam, kematian seorang tokoh bisa berhenti secara fisik, tetapi narasinya justru mulai hidup secara politik dan spiritual.
"..Karena itu, membaca dunia Islam hanya dengan logika “bunuh pemimpinnya, maka perlawanan selesai” adalah kesalahan besar.
Dalam banyak kasus, yang gugur memang satu orang, tetapi yang bangkit bisa satu generasi..."
#iran #amerika #DonaldTrump #DuniaIslam #Perlawanan #Geopolitik #perangiranamerika #perangtimurtengah

Posting Komentar untuk "Donald Trump Salah Membaca Dunia Islam"