Makassar Media Duta, –Asap hitam bergulung di langit Makassar, malam itu. Gedung DPRD Kota, yang selama puluhan tahun berdiri di jantung kota sebagai simbol demokrasi lokal, berubah jadi puing hitam.
Suara teriakan, dentuman batu, hingga sirine pemadam bercampur menjadi orkestra tragis yang tak seorang pun ingin dengar.
Namun di tengah kepanikan itu, satu sosok yang ditunggu rakyatnya justru tak terlihat. Wali Kota Makassar, yang sesungguhnya berada di dalam gedung beberapa jam sebelum api berkobar, memilih pergi lewat jalur aman. Bagi sebagian orang, keputusan itu bisa dimaklumi sebagai langkah menyelamatkan diri. Tetapi bagi banyak warga lainnya, itulah simbol nyata kegagalan kepemimpinan.
Direktur Lembaga Pusat Kajian Advokasi Anti Korupsi (PUKAT) Sulawesi Selatan, Farid Mamma SH, MHMalam yang Berubah Jadi Mimpi Buruk
Beberapa saksi mata mengisahkan, sore menjelang malam suasana di sekitar DPRD masih tegang tapi terkendali. Puluhan aparat berjaga, sementara di dalam, rapat penting berlangsung antara anggota dewan dan Wali Kota. Massa yang sudah berkumpul di luar gedung hanya menunggu pemicu kecil untuk meledak.
Dan pemicu itu datang. Teriakan “bakar!” terdengar bersahut-sahutan, kaca pecah, lemparan batu bertubi-tubi, dan tak lama api menjalar dari satu sudut gedung. Situasi berubah dalam hitungan menit. Para pejabat segera dievakuasi melalui jalur rahasia.
Andi (47), seorang pengendara motor yang berhenti menonton dari kejauhan, tak menyangka dirinya akan ikut jadi korban.
“Saya cuma lewat, berhenti sebentar. Tapi tiba-tiba semua panik. Api makin besar, orang lari-larian, batu berterbangan. Saya sempat jatuh waktu lari, hampir terinjak. Sampai sekarang lutut masih sakit,” katanya dengan wajah letih.
Andi hanyalah satu dari puluhan warga yang terluka akibat kepanikan malam itu. Ada yang sesak karena asap, ada pula yang kena lemparan benda. Bagi mereka, tragedi ini bukan sekadar headline media, melainkan pengalaman pahit yang nyata.

Pemimpin yang Absen di Tengah Api
Di tengah kepanikan, warga bertanya-tanya: di mana Wali Kota? Mengapa ia tak muncul di hadapan massa yang sejatinya adalah rakyatnya sendiri?
“Kalau saja Wali Kota berani keluar, menemui massa, saya yakin eskalasi tak akan separah itu. Gedung mungkin tidak terbakar, korban juga bisa dihindari,” ujar Farid Mamma, Direktur PUKAT Sulsel, dengan nada kecewa.
Bagi Farid, keputusan sang Wali Kota bukan sekadar strategi keamanan. Itu adalah ukuran nyali seorang pemimpin.
“Ini soal keberanian dan tanggung jawab. Pemimpin itu diuji di saat rakyat marah, bukan ketika pesta perayaan. Sayangnya, beliau memilih lari terbirit-birit,” tambahnya.
Kontras dari Daerah Lain
Peristiwa ini segera memantik perbandingan. Di media sosial, beredar video Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoada, yang belum lama ini turun langsung menenangkan massa demonstran di wilayahnya. Dengan suara lantang dan sikap tenang, ia meredam emosi warganya.

Yang Terbakar Bukan Hanya Gedung
Pagi setelah tragedi, sisa-sisa asap masih mengepul dari gedung yang hangus. Jendela-jendela kaca pecah, dinding hitam legam, dan bau hangus menyesakkan napas siapa pun yang melintas. Namun lebih dari bangunan fisik, yang hancur adalah rasa percaya rakyat terhadap pemimpinnya.
Bagi sebagian warga, kebakaran gedung hanyalah puncak gunung es dari relasi retak antara rakyat dan pemimpin. Ada jurang komunikasi yang dibiarkan melebar. Api malam itu hanyalah simbol dari kemarahan yang sudah lama membara.
Farid menutup dengan kalimat yang menyayat:
“Sejarah akan mencatat, di saat api menguji nyali pemimpin, rakyat justru melihat sosok yang bersembunyi. Itu luka yang lebih sulit dipadamkan daripada api di gedung DPRD.”
Laporan: Tim Redaksi

Posting Komentar untuk "Pemimpin Itu Diuji di Saat Rakyat Marah, Bukan Ketika Pesta Perayaan"