Ternyata selama empat tahun ini Ibuku di bu ang oleh Kakak kan dung ku sendiri 😭, Enaknya diapain ya guys 😡
Sudah lima tahun Niam menjadi TKI di Korea Selatan. Lima tahun ia hanya melihat wajah renta Mamaknya, Bu Rahayu, lewat layar ponsel, mendengar suaranya dari sambungan video call, dan menahan rindu yang seperti tak ada ujungnya.
Hari itu, Niam pulang.
Tanpa kabar, tanpa pemberitahuan, tanpa memberi isyarat sedikit pun kepada Mamak atau kedua kakak perempuannya. Ia ingin memberi kejutan. Ia ingin melihat senyum Mamak yang asli, bukan senyum yang dibatasi sinyal internet.
“Mamak… Niam kangen, Mak,” lirihnya di kursi pesawat, saat pesawat mulai menukik turun di Bandara Ahmad Yani.
Begitu mendarat, ia langsung menuju ojek online, meluncur ke terminal, dan menunggu bus jurusan Semarang–Purwodadi. Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti mengupas kembali lapisan-lapisan rindu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Turun dari bus, Niam berjalan kaki memasuki gang sempit yang sudah ia hafal di luar kepala. Jantungnya berdebar cepat. Begitu sampai di halaman rumah, ia tersenyum lega. Rumah peninggalan almarhum ayah itu masih berdiri kokoh.
Rumah yang sudah diwariskan warisan untuknya. Karena kedua kakaknya, Nikmah dan Ningsih, sudah mendapatkan bagian tanah masing-masing.
“Pasti Mamak kaget lihat aku tiba-tiba pulang,” gumamnya, langkahnya semakin cepat menuju pintu.
Namun langkah itu terhenti, ketika pintu rumah terbuka, dan yang keluar bukan Bu Rahayu. Tapi seorang pria paruh baya mengenakan sarung dan kaos dalam putih, membawa kandang burung.
Kening Niam berkerut. Siapa orang ini?
“Maaf… bapak ini siapa ya? Kenapa ada di rumah saya?” tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
Niam nyaris tak percaya. “Lho, ini rumah saya, Pak. Saya Niam, anaknya Bu Rahayu.”
Mata pria itu memicing, lalu seperti mengingat sesuatu. “Owalah… kamu anaknya Bu Rahayu. Jadi gini, rumah ini saya beli dari Bu Rahayu sejak empat tahun lalu. Dua anak perempuan Bu Rahayu yang mengurus semuanya.”
Niam terpaku. “Maksud Bapak… Mbak Nikmah dan Mbak Ningsih?”
Nada suaranya menggantung, membuat da-da Niam terasa panas. “T-tapi apa, Pak?”
“Dulu saya kira mereka menjual rumah ini karena kasihan Bu Rahayu tinggal sendiri. Saya pikir beliau bakal tinggal sama salah satu anaknya. Tapi… saya dengar dari tetangga, beliau malah dimasukkan ke panti jompo.”
“Apa?!” seru Niam. Seolah jantungnya melorot sampai lambung.
Pak Subakti mengangguk pelan. “Saya juga kaget mendengarnya.”
Kedua tangan Niam mengepal kuat. Seumur hidup, ia tak pernah membayangkan kedua kakaknya sanggup melakukan hal seke-jam itu. Padahal setiap bulan ia mengirim uang lewat mereka untuk Mamak.
Bahkan ia selalu menyisihkan jatah tambahan untuk mereka. Sekarang? Mereka menjual rumah warisannya tanpa izin, lalu membuang ibunya ke panti jompo?
“Bapak tahu di mana panti jomponya?” tanya Niam cepat.
“Kalau nggak salah namanya Panti Jompo Tombo Ati,” jawab Pak Subakti.
Niam menahan amarah yang hampir meledak. “Terima kasih infonya, Pak. Saya pamit.”
Ia berbalik meninggalkan halaman itu. Suara helaan napas berat Pak Subakti terdengar samar di belakangnya, seperti turut merasa iba.
Perjalanan menuju Panti Jompo Tombo Ati terasa begitu panjang. Di atas ojek, pikirannya penuh gambaran Bu Rahayu duduk sendirian di kursi roda, menatap kosong, tanpa ada keluarga di sisinya. Da-da Niam terasa sesak, matanya memanas.
Bangunan panti itu sederhana, bercat putih pucat, dengan pagar rendah. Di dalam, aroma obat-obatan bercampur cairan pembersih langsung menyergap.
Beberapa lansia duduk di kursi roda, sebagian lain menatap televisi tanpa ekspresi.
Niam melangkah ke meja resepsionis. “Permisi… saya mencari Bu Rahayu.”
Perempuan muda di balik meja tersenyum ramah. “Oh, Ibu Rahayu? Beliau ada di kamarnya, ayo saya antar.”
Langkah Niam terasa berat mengikuti petugas itu menyusuri lorong sempit. Setiap kamar yang pintunya terbuka memperlihatkan wajah-wajah renta yang menua sendirian.
Petugas itu berhenti di depan pintu bercat krem. Ia mengetuk pelan. “Bu Rahayu… ada tamu.”
Pintu dibuka.
Di dalam, seorang perempuan renta duduk di kursi. Tubuhnya jauh lebih kurus dari lima tahun lalu, rambutnya beruban seluruhnya, pipinya cekung. Tapi sorot matanya… tetap sorot mata seorang ibu yang pernah menimang anaknya dengan penuh kasih.
“Mamak…” suara Niam bergetar.
Bu Rahayu menoleh. Matanya membesar, bibirnya bergetar. “N-Niam…?”
Niam berlari menghampirinya, berlutut, mem-eluk tubuhnya yang ringkih. “Mamak… ini Niam. Mak, anakmu pulang…”
Air matanya tumpah deras. Ia menci-um tangan ibunya berkali-kali, lalu merunduk menci-um kakinya. Tubuh Bu Rahayu bergetar di pe-lukannya.
“Ya Allah… Niam…” suara Bu Rahayu pecah, tangisnya mengalir deras. Jemarinya yang gemetar mengelus kepala anak bungsunya.
“Kenapa Mamak di sini? Kenapa Mbak Nikmah sama Mbak Ningsih tega begini, Mak?” tanya Niam di sela tangisnya.
Bu Rahayu hanya terisak, tak mampu menjawab.
Niam menggenggam tangan ibunya kuat-kuat. “Mamak nggak usah khawatir… Niam janji, Niam akan bawa Mamak keluar dari sini. Dan Niam akan balas perbuatan Mbak Nikmah dan Mbak Ningsih.”
Dan saat itulah Niam bersumpah akan membalas perbuatan kedua kakak perempuannya!
Penulis: Dewi Diyu

Posting Komentar untuk "Niam, Empat Tahun Ibuku di Buang Kakak Kandung di Panti Jompo"