Di hari-hari terakhirnya pada tahun 2001, saat raga tak lagi mampu berkompromi dengan sakitnya, ada satu kekhawatiran yang jauh lebih besar dari rasa sakit itu sendiri di benak seorang Dono Warkop.
Bukan tentang harta, bukan pula tentang popularitas. Di atas ranjang rumah sakit, ia menatap sahabat setianya, Indro, dan menitipkan satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki: anak-anaknya.
Dro, anak-anak gue gimana?"Kalimat sederhana itu adalah sebuah amanah besar. Dono sadar, istrinya telah lebih dulu berpulang dua tahun sebelumnya. Ia tak ingin anak-anaknya kehilangan arah. Ia hanya meminta satu hal: Pastikan mereka sekolah setinggi mungkin.
Janji Seorang Sahabat Indro tidak sekadar mengangguk. Ia menjadikan pesan itu sebagai misi hidupnya. Baginya, anak Dono dan anak Kasino adalah darah dagingnya sendiri.
Buah dari Amanah yang Terjaga Tahun-tahun berlalu, dan janji itu lunas dibayar tuntas. Dunia sempat terpana saat mengetahui salah satu putra Dono, Damar Canggih Wicaksono, berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Teknik Nuklir di Swiss.
Indro hadir di setiap momen penting mereka—menjadi saksi nikah, menjadi sandaran saat mereka rindu orang tua, dan membuktikan bahwa Warkop DKI bukan sekadar grup lawak, tapi sebuah keluarga yang tak terpisahkan oleh maut.
Dari mereka kita belajar: Bahwa sahabat sejati tidak hanya tertawa bersamamu di puncak kejayaan, tapi juga memastikan keturunanmu tetap berdiri tegak saat kamu sudah tiada.(*)

Posting Komentar untuk "Janji Terakhir Dono Kepada Indro"