Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle: Ulama Pembaharu dari Tanah Bugis


Di sebuah desa sunyi bernama Ujung, di tanah Wajo yang kental dengan adat bangsawan Bugis, sekitar tahun 1900 M, lahirlah seorang anak yang kelak jejak hidupnya mengalir jauh melampaui kampung halaman.

 Ia diberi nama Ambo Dalle, doa yang disematkan orang tuanya agar ia kelak menjadi lelaki yang hidup dalam kecukupan rezeki dan keberkahan.

 Nama Abdul Rahman disematkan kemudian, saat ia masih belia, ketika hafalan Al-Qur’annya telah membuat para ulama menoleh dengan kagum.

Sejak kecil, Ambo Dalle tidak tumbuh dalam kemanjaan darah bangsawan. Pagi hari ia bersekolah, sore dan malamnya duduk bersila menimba ilmu agama. Kitab demi kitab dilahapnya dengan kesungguhan. 

Di sela-sela masa kanak-kanak, ia dikenal lincah dan gesit, penggiring bola andal yang dijuluki “Si Rusa”. Namun hidupnya segera memilih jalan sunyi: jalan ilmu dan pengabdian.

Tak puas hanya pada satu cakrawala, ia mempelajari ilmu agama klasik—tafsir, fikih, nahwu, sharaf—namun juga membuka diri pada dunia modern: belajar bahasa Belanda, menempuh pendidikan guru, dan menyaksikan perubahan zaman dengan mata yang jernih.

 Pertemuannya dengan AGH Muhammad As’ad menjadi titik balik hidupnya. Dari murid, ia dipercaya menjadi asisten; dari santri, ia tumbuh menjadi pendidik.

Ketika sistem pengajian tradisional mulai dirasakan perlu pembaruan, Ambo Dalle berada di garis depan perubahan.

 Ia memimpin lahirnya Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Sengkang—sebuah lembaga yang memadukan tradisi dan modernitas. Dari sinilah namanya mulai dikenal luas.

Tahun 1938, dengan tekad dan keyakinan, ia berhijrah ke Mangkoso. Dari tanah inilah api dakwah dan pendidikan dinyalakan lebih besar. 

Pesantren tumbuh, santri berdatangan, cabang-cabang pendidikan dibuka ke berbagai penjuru Sulawesi. Di tengah penjajahan Jepang, ia mengajar secara sembunyi-sembunyi; di tengah ancaman senjata, ia melawan dengan ilmu dan kesabaran.

Pasca kemerdekaan, di tengah luka bangsa dan pembantaian Westerling, Ambo Dalle tetap berdiri. Ia tidak mengangkat senjata, tetapi mengirim murid-muridnya untuk melawan kebodohan—musuh yang tak kalah berbahaya dari penjajah. 

Dari rahim perjuangan itulah lahir Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) pada tahun 1947, organisasi besar yang kelak menjelma jaringan pendidikan dan dakwah lintas daerah, bahkan lintas negara.

Hidupnya tidak selalu teduh. Ia pernah diculik dan dipaksa hidup di hutan bersama gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

 Delapan tahun lamanya ia berada di rimba, bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai guru—mengajar, menasihati, dan menanamkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah kerasnya ideologi dan senjata. 

Hingga akhirnya ia kembali ke pangkuan Republik dengan kebijaksanaan yang makin matang.

Tahun-tahun berikutnya dihabiskan untuk membesarkan DDI, mendidik santri, membangun pesantren di Parepare dan Pinrang, serta menulis puluhan kitab yang mengupas akidah, tasawuf, bahasa Arab, hingga logika.

 Di usia senja, tubuhnya boleh renta, tetapi semangatnya tetap menyala. Ia masih berdakwah, bermusyawarah, bahkan memenuhi undangan ke luar negeri meski harus digendong.

AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle bukan sekadar ulama. Ia adalah pendidik peradaban, pembaharu yang lembut, pemimpin yang merangkul, dan guru yang mengajar dengan teladan hidup. 

Ketika ia berpulang, hampir satu abad perjalanan telah ditunaikan—meninggalkan jejak yang terus hidup di pesantren, kitab, dan jiwa para muridnya.

Al-Fatihah. #barakkanagurutta #ddi #mangkoso #parepare #kaballangang

Posting Komentar untuk "AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle: Ulama Pembaharu dari Tanah Bugis"