Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Dulu Disandera di Irak dengan Todongan Senjata, Kini Meutya Hafid Resmi Jadi Menteri!


Dulu Disandera di Irak dengan Todongan Senjata, Kini Meutya Hafid Resmi Jadi Menteri! Perjalanan Hidup yang Luar Biasa!

Nama Meutya Viada Hafid kini resmi mengemban amanah baru sebagai Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) dalam jajaran kabinet pemerintahan saat ini. 

Transformasi karier Meutya, dari seorang jurnalis tangguh yang pernah mempertaruhkan nyawa di Irak hingga menjadi politikus senior di Senayan, merupakan catatan perjalanan yang penuh dedikasi dan keberanian.

Jejak Langkah di Dunia Jurnalistik

Lahir pada 3 Mei 1978, perempuan asal Soppeng, Sulawesi Selatan, ini memulai kariernya sebagai penyiar berita di Metro TV. Publik mengenal Meutya bukan sekadar sebagai pembawa acara Top Nine News atau Metro Hari Ini, melainkan sebagai jurnalis lapangan yang berani.

Peristiwa yang paling membekas dalam ingatan publik terjadi pada 18 Februari 2005. Saat bertugas meliput di Irak bersama juru kamera Budiyanto, Meutya diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata. 

Selama 168 jam penuh ketidakpastian, ia berada dalam sekapan sebelum akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.

 Pengalaman traumatik sekaligus heroik ini ia tuangkan dalam memoar berjudul 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak, yang diberi pengantar langsung oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Dedikasinya di dunia pers membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:

Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill (2007): Penghargaan dari pemerintah Australia bagi jurnalis yang dinilai profesional dan berdedikasi tinggi.

Alumni Australia Award (2008): Pengakuan atas kontribusinya di bidang Jurnalisme dan Media sebagai lulusan University of New South Wales.

Tokoh Pers Inspiratif Indonesia (2012): Versi Mizan, di mana ia menjadi satu-satunya perempuan dan tokoh termuda di antara legenda pers seperti Tirto Adhi Soerjo dan Goenawan Mohamad.

Transisi ke Panggung Politik

Karier politik Meutya dimulai pada tahun 2010 saat ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Binjai. 

Meski sempat mengalami sengketa hasil suara di Mahkamah Konstitusi yang akhirnya ditolak, langkah ini menjadi gerbang pembuka bagi pengabdiannya di tingkat nasional.

Meutya resmi melenggang ke Senayan pada Agustus 2010 sebagai Anggota DPR-RI melalui mekanisme Antar Waktu (PAW) menggantikan mendiang Burhanuddin Napitupulu. 

Sebagai kader Partai Golkar dari daerah pemilihan Sumatera Utara I, Meutya membuktikan kapasitasnya dengan dipercaya menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR-RI sejak 2019, yang membidangi urusan Pertahanan, Luar Negeri, Komunikasi, dan Informatika.

Loyalitas Partai dan Prinsip Politik

Keberpihakan politik Meutya sempat diuji saat organisasi massa Nasional Demokrat (Nasdem) bertransformasi menjadi partai politik pada 2011. 

Mengingat kedekatannya dengan Surya Paloh di Metro TV, Meutya sempat bergabung dengan ormas tersebut. Namun, saat tenggat waktu pilihan tiba pada Agustus 2011, ia memilih tetap setia pada Partai Golkar.

Melalui akun media sosialnya, Meutya menegaskan komitmennya: "Sangatlah tidak mungkin jika saya menjadi anggota parpol lain," sebuah pernyataan yang mengukuhkan posisinya sebagai kader beringin yang loyal.

Kini, dengan latar belakang kuat di bidang komunikasi dan pengalaman panjang di legislatif, Meutya Hafid mengemban tanggung jawab besar sebagai Menteri Komunikasi dan Digital, menakhodai transformasi digital Indonesia di masa depan. (Wikipedia)

Posting Komentar untuk "Dulu Disandera di Irak dengan Todongan Senjata, Kini Meutya Hafid Resmi Jadi Menteri! "