Di balik kekuasaan panjang Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, berdiri para perwira kepercayaan yang bukan sekadar pengawal, melainkan saksi sekaligus pelaku sejarah.
Keduanya pernah mengemban tugas sebagai ajudan Presiden Soeharto sebuah posisi strategis yang menuntut loyalitas, kedisiplinan, dan kepekaan tinggi sebelum akhirnya mencapai puncak tertinggi militer sebagai Panglima ABRI.
Try Sutrisno: Loyalitas yang Ditempa Sejak Medan OperasiJenderal TNI (Purn) Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Anak ketiga dari pasangan Soebandi dan Mardiyah ini telah mengenal Soeharto jauh sebelum menjadi ajudannya.
Perkenalan itu terjalin saat Operasi Pembebasan Irian Barat (1962), ketika Mayor Jenderal Soeharto menjabat Panglima Komando Mandala.
Pada 1974–1978, Try dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto.
Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories, ia mengenang Soeharto sebagai komandan yang mendahulukan kesejahteraan anak buah bahkan untuk urusan mendasar seperti makan.
Pengalaman dekat dengan pusat kekuasaan itu menjadi fondasi kepemimpinan Try di kemudian hari.
Selepas masa ajudan, kariernya menanjak melalui jabatan-jabatan strategis: Kasdam XVI/Udayana, Pangdam IV/Sriwijaya, Pangdam Jaya/Jayakarta, hingga Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Puncaknya, Try Sutrisno menjabat Panglima ABRI (1988–1993).
Setelah itu, ia kembali mendampingi Soeharto sebagai Wakil Presiden RI (1993–1998) menegaskan kepercayaan negara pada integritas dan kapasitasnya.
Wiranto: Ketegasan, Disiplin, dan Naluri Kepemimpinan
Jenderal TNI (Purn) Wiranto lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Lulusan Akademi Militer Nasional 1968 ini mulai bertugas sebagai ajudan Presiden Soeharto pada 1989–1993, saat berpangkat Kolonel.
Dalam masa itu, Wiranto dikenal sebagai perwira yang cermat membaca situasi dan memahami kapan presiden memerlukan pengawalan ketat, serta kapan cukup tampil sederhana sebagai pemimpin rakyat sebuah kesan yang juga ia tuliskan dalam Pak Harto: The Untold Stories.
Jenjang kepangkatan Wiranto menunjukkan akselerasi yang konsisten: dari Letnan Dua (1968) hingga Jenderal TNI (1997).
Tak lama setelah masa ajudannya, ia dipercaya menduduki posisi strategis hingga akhirnya menjabat Panglima ABRI, menandai pengakuan atas kepemimpinan dan pengalaman lapangannya di berbagai medan tugas.
Ajudan, Sekolah Kepemimpinan yang Sunyi
Kisah Try Sutrisno dan Wiranto menunjukkan bahwa posisi ajudan presiden bukan sekadar peran administratif. Ia adalah “sekolah kepemimpinan sunyi” tempat karakter ditempa, kepercayaan diuji, dan visi kebangsaan diperkaya dari jarak terdekat dengan pusat keputusan.
Dari sana, keduanya melangkah mantap menuju pucuk komando, meninggalkan jejak penting dalam sejarah militer Indonesia.
Sumber : SINDOnews.com

Posting Komentar untuk "Jejak Karier Gemilang Try Sutrisno dan Wiranto, Tegas, Disiplin, dan Naluri Kepemimpinan"