Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Tegang Sintong Panjaitan & Prabowo Subianto di Balik Dinding Cijantung”


 “Benturan Dua Banteng Merah: Kisah Tegang Sintong Panjaitan & Prabowo Subianto di Balik Dinding Cijantung” 

Di balik reputasi Kopassus sebagai pasukan elite penuh disiplin dan keberanian, tersimpan sebuah kisah dramatis yang jarang diceritakan. 

Kisah ini terjadi pada 5 Mei 1985, ketika Kolonel Sintong Panjaitan baru saja dilantik menjadi Komandan Kopashandha nama lama dari Kopassus menggantikan Brigjen Wismoyo Arismunandar.

Sebagai komandan baru, Sintong langsung menerima laporan dari Asisten Personel, Kolonel Bambang Sumbogo:

Ada Surat Perintah Mutasi untuk Mayor Prabowo Subianto… dan surat itu sudah lama mangkrak, belum dilaksanakan.

Sintong terkejut. Sangat terkejut.

Di tubuh pasukan baret merah yang terkenal berdisiplin keras, perintah adalah harga mati. Surat mutasi yang tertahan merupakan kejanggalan besar.

Tak lama kemudian, Mayor Prabowo meminta izin untuk menghadap ke Sintong. Ini tidak lazim.

Dalam tradisi Kopashandha, prajurit hanya boleh menghadap atasan langsung. Sementara saat itu, Prabowo adalah Wakil Komandan Detasemen 81/ Anti Teror, di bawah Letkol Luhut Binsar Panjaitan.

Namun Prabowo tetap datang. Ketika bertemu Sintong, ia bertanya:

“Kenapa saya dipindahkan dari Kopashandha, Komandan?”

Pertanyaan itu membuat darah Sintong mendidih.

Baginya, tentara tidak boleh menawar perintah, apalagi mempertanyakannya. Hanya ada satu kata sakti yang melekat pada setiap prajurit:

👉 “Siap laksanakan!”

Dengan nada keras, Sintong membalas:

“Kalau kamu tidak mau melaksanakan perintah, keluar saja dari tentara! Masuk partai politik! Siapa tahu nanti kamu bisa jadi Menteri Pertahanan aku akan tetap hormat padamu!”

Ucapannya itu kelak terdengar seperti ramalan yang jadi kenyataan.

dieksekus

🔥 Latar Belakang yang Rumit: Politik, Keluarga, dan Baret Merah

Mengapa surat mutasi itu tak kunjung dieksekusi?

Dalam buku “Perjalanan Seorang Prajurit Komando” karya Hendro Subroto, disebutkan beberapa kemungkinan:

1. Prabowo enggan meninggalkan Kopashandha.

Dari baret merah ke baret hijau jelas soal gengsi. Apa kata dunia?

2. Brigjen Wismoyo ‘ewuh pakewuh’.

Sulit mengeksekusi mutasi menantu Presiden Soeharto.

Padahal Wismoyo sendiri juga keluarga Cendana istrinya adalah adik kandung Ibu Tien Soeharto.

3. Prabowo sudah menjadi bagian dari lingkar istana.

Setelah menikah dengan Titiek Suharto pada awal 1985, berbagai pandangan menyebut Prabowo mulai sering berbicara tentang politik dan dinamika istana, bukan lagi strategi perang seperti sebelumnya.

Kombinasi faktor-faktor itulah yang membuat suasana Cijantung kala itu seperti menyimpan bara dalam sekam.

🔥 Retak yang Menjadi Jurang

Bentakan keras Sintong tidak hanya memaksa Prabowo menunduk hari itu tetapi juga menandai retaknya hubungan dua prajurit tangguh ini.

Sintong mengaku bahwa setelah insiden itu, mereka tidak pernah bertemu lagi.

Tidak di acara resmi.

Tidak dalam forum militer.

Tidak dalam momen kekeluargaan.

Keduanya baru kembali bertemu 13 tahun kemudian, pada 1998, ketika Letjen Prabowo yang saat itu menjadi Pangkostrad muncul di Istana untuk menemui Presiden BJ Habibie. Sementara Sintong sudah menjadi Penasihat Presiden bidang Keamanan dan Pertahanan.

Pertemuan itu bukan reuni yang hangat, melainkan bab lain dari sejarah Indonesia yang tengah berguncang pasca runtuhnya Orde Baru.

🔥 Luhut Binsar Ikut Bicara

Ada satu lagi cerita menarik:

Luhut Binsar Panjaitan, atasan langsung Prabowo di Detasemen 81, pernah dimintai pendapat oleh Jenderal Tri Sutrisno yang pada awal 1986 menjabat sebagai KSAD.

Ini menunjukkan betapa pelik dan sensitifnya mutasi Prabowo kala itu.

Bukan sekadar perpindahan biasa.

Ada politik.

Ada keluarga.

Ada dinamika kekuasaan.

Dan ada ego dua prajurit keras yang sama-sama ingin menjaga marwah pasukan baret merah.

Sumber : Sindonews.com

Posting Komentar untuk "Kisah Tegang Sintong Panjaitan & Prabowo Subianto di Balik Dinding Cijantung” "