Dibalik seragam yang seharusnya menjadi simbol perlindungan, tersembunyi sosok yang justru menjadi mimpi buruk bagi rekan setimnya sendiri.
Di Pos Sanepa, Distrik Homeyo, kemanusiaan resmi meninggal dunia di tangan seorang senior berpangkat Kopral Dua (Kopda) yang lebih memilih menggunakan sepatu larasnya daripada rasa belas kasih.
Sosok ini merepresentasikan sisi gelap dari tradisi militer yang disalahartikan. la bukanlah pemimpin, melainkan pelaku kekerasan yang gagal melihat martabat manusia dalam diri juniornya:
Penyiksa di Saat Lemah: la adalah orang yang melihat tubuh menggigil Pratu Farkhan bukan sebagai tanda bahaya medis, melainkan sebagai "sasaran empuk" Baginya, kerentanan junior adalah alasan untuk melakukan intimidasi, bukan pemberian pertolongan.(*)

Posting Komentar untuk "Kopral Dua Memilih Menggunakan Sepatu Larasnya Dari Pada Rasa Bekas Kasih"