Dalam sebuah Sidang Kabinet di Bina Graha, Presiden Soeharto memimpin rapat pembahasan anggaran negara.
Jenderal M. Jusuf mengajukan anggaran tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit bukan untuk kemewahan, melainkan untuk kebutuhan paling mendasar: makanan yang layak, seragam yang pantas, dan tempat tinggal yang manusiawi.
Baginya, prajurit bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Mereka adalah anak-anak bangsa yang mempertaruhkan nyawa demi Merah Putih.
Jenderal M. Jusuf telah melihat sendiri kehidupan prajurit di barak-barak terpencil, di perbatasan sunyi, dan di medan tugas yang keras. Karena itulah, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk berbicara.Namun usulan tersebut ditanggapi dingin. Keterbatasan anggaran negara sebagai alasan klasik kembali dikemukakan.
GEBRAKAN SEORANG KSATRIA
Di titik itulah, kesabaran seorang panglima rakyat mencapai batasnya. Jenderal M. Jusuf yang dikenal tenang dan bersahaja, berdiri.
Suaranya menggelegar, mengguncang ruang sidang yang penuh kekuasaan. Dengan satu hentakan keras, ia menggebrak meja sidang, lalu melontarkan kalimat yang kelak dikenang sejarah:
“Kalau tidak ada uang untuk memperbaiki nasib prajurit, untuk apa kita punya tentara? Bubarkan saja Angkatan Bersenjata!”
Ruang sidang mendadak senyap. Para menteri terdiam. Semua tahu, tindakan itu sangat berisiko.
Menggebrak meja di hadapan Presiden Soeharto sang penguasa Orde Baru yang amat disegani bisa berarti tamatnya karier, bahkan lebih dari itu.
Namun bagi Jenderal M. Jusuf, kehormatan prajurit dan harga diri negara jauh lebih penting daripada jabatan.
KEBERANIAN YANG MENGUBAH KEPUTUSAN
Presiden Soeharto terdiam sejenak. Ia menangkap satu hal penting: kemarahan itu bukan ambisi, bukan perlawanan, melainkan jeritan kejujuran seorang panglima yang membela pasukannya.
Konon, sikap Presiden pun melunak, dan usulan anggaran tersebut akhirnya disetujui.
Peristiwa ini menjadi tonggak moral dalam sejarah kepemimpinan militer Indonesia.
Jenderal M. Jusuf membuktikan bahwa loyalitas sejati bukanlah diam di hadapan kekuasaan, melainkan keberanian mengatakan kebenaran demi kepentingan bangsa.
Kisah gebrak meja itu menyebar luas di kalangan prajurit dan rakyat, mengukuhkan Jenderal M. Jusuf sebagai panglima yang dicintai, dihormati, dan dipercaya.
Ia bukan hanya pemimpin bersenjata, tetapi penjaga nurani republik, seorang patriot yang berdiri tegak demi prajurit, rakyat, dan kehormatan Indonesia.(*)

Posting Komentar untuk "MEMBELA PRAJURIT, MEMBELA NEGARA"