Temuan tersebut didapat saat operasi pencarian yang melibatkan pemantauan udara menggunakan helikopter dan penyisiran darat dengan bantuan drone.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa operasi pencarian dimulai sejak pukul 06.15 WITA.
Tim dibagi menjadi dua unsur utama, yakni tim AJU yang bergerak dari darat membawa drone serta perlengkapan evakuasi, dan tim udara yang melakukan pemantauan menggunakan helikopter milik Lanud.
Sekitar pukul 07.46 WITA, kru helikopter melaporkan visual pertama berupa serpihan kecil yang diduga bagian jendela pesawat.
Selang beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 07.49 WITA, tim kembali mendapatkan informasi adanya serpihan besar yang dicurigai sebagai badan dan ekor pesawat di lereng bagian bawah gunung.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim AJU segera diarahkan menuju titik lokasi.
Namun, Andi Sultan menegaskan bahwa kondisi medan di sekitar badan pesawat tergolong sangat terjal, sehingga faktor keselamatan personel menjadi prioritas utama.
“Akses ke lokasi cukup ekstrem. Kami tidak ingin terburu-buru, jadi safety tim tetap yang utama sebelum evakuasi dilakukan,” jelasnya.
Untuk proses evakuasi serpihan pesawat, Basarnas berencana menggunakan jalur pendakian resmi, meskipun terdapat jalur alternatif yang lebih dekat. Jalur tersebut dinilai terlalu berisiko karena tingkat kemiringan yang tinggi.
Kronologi Hilangnya Kontak ATR 42-500
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, mengungkapkan bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta** menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat buatan tahun 2000 itu dikemudikan oleh Kapten Andi Dahananto.
Menurut Lukman, pada pukul 04.23 UTC, pesawat mendapat instruksi dari Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21.
Namun, dalam fase pendekatan, pesawat terdeteksi berada di luar jalur yang seharusnya. ATC kemudian memberikan arahan koreksi agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.
“Beberapa instruksi lanjutan telah disampaikan oleh ATC. Namun setelah arahan terakhir diberikan, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba terputus,” ungkap Lukman.
Hingga kini, proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan.
Note : Gambar Di Atas Gambar Ilustrasi Yang Di Hasilkan Oleh Ai.

Posting Komentar untuk "Serpihan Utama ATR 42-500 Ditemukan di Lereng Gunung Bulusaraung."