Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah AKBP Arif yang Melaporkan Kehilangan Sepeda Malah Di Cuekin


Kisah AKBP Arif yang melakukan penyamaran (undercover) menjadi warga sipil di sebuah Polsek ini memberikan pelajaran berharga tentang wajah pelayanan publik kita. 

Dialog dialog di bawah ini mengungkap sisi gelap birokrasi di mana nilai sebuah masalah sering kali hanya diukur dari nominal rupiah, bukan dari rasa empati.

Melalui akun Instagram pribadinya @arif_fazlurrahman, ia membagikan pengalaman pribadinya saat menjadi korban kejahatan dan harus merasakan pahitnya pelayanan kepolisian yang kurang empatik. 

Berikut ini cerita AKBP Arif kepada bawahannya di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Turi. Cekidot gaes... 

Suasana hening, serius, para anggota menyimak dengan seksama.

​AKBP Arif:

 (Menatap satu per satu anggotanya) "Pernah jadi korban kejahatan nggak, Pak Ridwan?"

​Pak Ridwan: (Tegak) "Siap, insyaallah belum, Komandan."

​AKBP Arif:

 "Belum pernah? Baguslah. Tapi saya pernah. Saya ini polisi, tapi saya juga korban kejahatan. Sepeda saya dicuri maling. 

Padahal CCTV saya pasang sendiri, Babinsa sering kontrol ke sana karena saya yang suruh. Tapi ya itu, qodarullah, saya tetap jadi korban."

​(Beliau terdiam sejenak, memutar memori beberapa tahun silam)

​AKBP Arif: 

"Singkat cerita, datanglah saya ke sebuah Polsek. Tok! Tok! Tok! 

Saya ceritain ini supaya kalian jangan sampai seperti itu. Dengarkan baik-baik."

​AKBP Arif: (Memperagakan peran warga) "Pak!' kata saya. Petugasnya jawab malas-malasan, 'Ya..'. 

Saya bilang, 'Pak, saya mau laporan, ada musibah.' Petugas itu tanya lagi, 'Ya, ada apa?'. 

Saya jawab, 'Saya habis kecurian, Pak.'"

​AKBP Arif: (Berhenti sejenak, wajahnya berubah serius) "Kalian tahu? 

Mukanya itu... masih belum serius. 

Saya masih berdiri di depannya, disuruh duduk saja belum.

 Saya perhatikan saja, saya diam, saya tidak bilang kalau saya ini polisi. Saya berdiri terus sampai kaki capek. 

Mau langsung duduk, saya pikir nanti malah disemprot atau dikira nggak sopan. Tapi dia? Masih saja membiarkan saya berdiri."

​Petugas Polsek (dalam cerita): "Hilang apa?"

​AKBP Arif: "Sepeda," jawab saya singkat.

 "Nah, sekarang saya mau main tebak-tebakan sama kalian. 

Pak Ridwan, kira-kira pertanyaan selanjutnya dari petugas itu apa?"

​Pak Ridwan: "Mungkin... 'Hilangnya kapan, Pak?'"

​AKBP Arif: 

"Salah! Pak Bi, menurutmu apa?"

​Pak Bi:

 "Kehilangan sepeda motor apa, Pak?"

​AKBP Arif: (Tersenyum getir) "Salah juga. Pak Jodi, coba tebak."

​Pak Jodi: (Ragu-ragu) "Anu... 'Emang berapa harga sepedanya?', 

Komandan?"

​AKBP Arif: (Menunjuk Pak Jodi) "Tepat! 'Emang berapa harganya?'. Hancur hati saya dengar itu, Pak. Hancur."

​(Suasana ruangan semakin hening, beberapa anggota menunduk)

​AKBP Arif: "Belum apa-apa, empati sudah mati di sana. Harusnya suruh duduk dulu. Itu namanya memanusiakan orang. 

Saya bicara begini karena saya pernah di posisi kalian, dan saya pernah di posisi masyarakat yang sedang kemalangan. 

Sepeda pancal, Pak! Bukan motor. Motor saja susah dicari, apalagi sepeda pancal. Tapi ditanya harganya seolah-olah kalau harganya murah laporannya nggak berharga."

​AKBP Arif: "Iya, kita tahu ada aturan 'Perma', ada pencurian ringan, berat, atau biasa. Tapi jangan divonis di depan dong! Apa kalau harganya lima ratus ribu terus kita nggak mau kerja? Nggak boleh begitu! 

Secara rupiah mungkin murah, tapi bagi orang itu, barang tersebut mungkin sangat penting. Hasil menabung bertahun-tahun."

​AKBP Arif: (Nadanya meninggi) "Kita belum tentu bisa menyelesaikan masalah orang, tapi jangan meremehkan masalah mereka! 

Jangan dianggap enteng! Saya pun dari awal tidak berharap sepeda itu ketemu, tapi saya butuh dihargai sebagai warga negara."

​AKBP Arif: 

"Saya lanjutkan lagi ceritanya, Petugas itu tanya lagi, 'Emang harganya berapa?'. 

Di situ saya murka! Saya bilang, 'Woi! Brengsek kamu! Panggil Kapolsekmu!'. 

Kaget dia... 

Saya bilang saya pernah jadi Kapolsek, nggak ada cara melayani orang seperti itu. Baru dia sibuk, 'Siap, siap, siap Ndan!'

​AKBP Arif: "Saya bilang ke dia, 'Ini sepeda saya. Saya menabung untuk beli ini. Kalau harganya cuma seratus lima puluh ribu, kamu nggak mau terima laporan saya?'

​AKBP Arif: (Menutup pembicaraan dengan lembut namun tegas) "Itu kejadian lima atau enam tahun lalu. Mestinya sekarang sudah nggak ada. Mestinya kalian sudah banyak berubah. 

Ingat ya, jangan pernah ukur kesedihan orang dengan nominal rupiah. Layani mereka seolah mereka adalah keluarga kalian sendiri yang sedang tertimpa musibah. Sepakat ya! 

Pesan AKBP Arif sangat jelas, Pelayanan publik adalah soal martabat, bukan harga pasar. 

Ketika seorang aparat menanyakan "harga" sebuah kehilangan, ia secara tidak langsung sedang menegosiasikan keadilan.

 Narasi ini mengingatkan bahwa garda terdepan kepolisian adalah wajah negara bagi rakyat yang sedang terluka.

Andrian

7 Februari 2026

19 Syaban 1447

#AKBPArif #PolresTuri #KisahInspiratif

Posting Komentar untuk "Kisah AKBP Arif yang Melaporkan Kehilangan Sepeda Malah Di Cuekin"