Jenderal Edy Rahmayadi, Pensiun Dini Demi Membangun Tanah Kelahiran Sumatera Utara
Lahir di Sabang, Aceh, pada 10 Maret 1961, Edy Rahmayadi tumbuh besar di tengah kedisiplinan keluarga militer. Ayahnya, Kapten Kal. (Purn.) Rachman Ishaq, adalah seorang prajurit TNI-AU keturunan Melayu Deli.
Sebagai "anak kolong", Edy kecil sudah terbiasa berpindah-pindah mengikuti penugasan ayahnya, mulai dari menempuh pendidikan dasar di Madiun hingga akhirnya menetap dan menyelesaikan sekolah menengahnya di SMA Negeri 1 Medan.
Titik awal kariernya tidak langsung bermula di akademi militer. Setelah lulus SMA, Edy sempat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).Namun, panggilan jiwa untuk mengikuti jejak sang ayah di dunia militer begitu kuat, hingga ia akhirnya masuk ke Akademi Militer dan lulus pada tahun 1985.
Di sinilah ia mulai menempa diri sebagai prajurit infanteri yang tangguh, di mana salah satu jabatan ikoniknya adalah saat dipercaya menjadi Komandan Yonif Linud 100/Prajurit Setia di Langkat.
Karier militernya melesat tajam. Puncak pengabdiannya di TNI diraih saat ia menjabat sebagai Panglima Kodam I/Bukit Barisan dan kemudian naik menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Namun, sebuah titik balik besar terjadi pada awal tahun 2018. Di tengah karier militernya yang masih sangat cemerlang dengan pangkat Letnan Jenderal, Edy mengambil keputusan berani untuk mengajukan pensiun dini demi mengikuti kontestasi Pilgub Sumatera Utara.
Langkah berani tersebut membuahkan hasil. Ia terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023.
Selama memimpin Sumut, Edy dikenal sebagai pemimpin yang blak-blakan, tegas, dan tidak ragu menunjukkan karakter militernya dalam birokrasi.
Ia membawa visi untuk membangun Sumatera Utara yang lebih bermartabat, sebuah misi yang ia jalankan dengan penuh disiplin, persis seperti saat ia masih memimpin pasukan di barak.
Selain di pemerintahan, nama Edy Rahmayadi juga tak lepas dari dunia olahraga nasional. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, menunjukkan minatnya yang besar terhadap sepak bola.
Meski kepemimpinannya di PSSI dan pemerintahan sering kali memicu diskusi publik karena gayanya yang lugas, tidak ada yang meragukan kecintaannya pada Sumatera Utara, daerah yang ia sebut sebagai tanah pengabdian terakhirnya.
Kini, dengan segala pengalaman mulai dari medan tempur hingga meja pemerintahan, sosok Edy Rahmayadi tetap menjadi figur sentral di Sumatera Utara.
Bagi pembaca di usia matang, kisahnya memberikan pelajaran bahwa pangkat dan jabatan setinggi apa pun hanyalah alat untuk pengabdian yang lebih luas.
Perjalanannya dari anak prajurit di Sabang hingga menjadi jenderal bintang tiga dan Gubernur membuktikan bahwa kedisiplinan dan keberanian mengambil keputusan adalah kunci dalam menghadapi tantangan hidup.
Sumber: Wikipedia - "Edy Rahmayadi"

Posting Komentar untuk "Jenderal Edy Rahmayadi, Pensiun Dini Demi Membangun Tanah Kelahiran Sumatera Utara"