Papua Media Duta,- Suara itu bergetar… bukan karena ragu, tapi karena haru yang tak mampu lagi dibendung.
Ketika Mathius D. Fakhiri mengucapkan dua kalimat syahadat, ia tak hanya melafalkan kata-kata. Ia sedang menyerahkan hatinya.
Di hadapan para saksi, matanya terpejam, napasnya tertahan sejenak seolah seluruh perjalanan hidupnya melintas di pelupuk mata.
Lalu ia menghembuskannya perlahan… seperti melepas masa lalu, dan menyambut cahaya baru.
Maret 2024 menjadi saksi sebuah keputusan besar. Bagi sebagian orang, berpindah keyakinan mungkin terlihat seperti langkah mendadak.
Namun bagi Mathius, ini adalah perjalanan sunyi yang panjang—penuh dialog batin, pencarian makna, dan doa yang tak pernah terdengar orang lain.
Ia tumbuh dalam keluarga berdarah Bade, Edera, Mappi hingga Sorong Selatan. Anak seorang letkol purnawirawan yang dibesarkan dalam disiplin keras.
Hidupnya terbiasa berpindah, mengikuti tugas sang ayah. Namun, tak ada perpindahan yang sedalam perpindahan hati.
Setelah menanggalkan seragam kepolisian dan memilih pensiun dini dari institusi Polri pada 2024 demi maju sebagai calon Gubernur Papua, justru di masa jeda itulah ia menemukan ruang untuk benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Ia belajar. Ia membaca. Ia merenung. Bukan karena tekanan. Bukan karena paksaan. Melainkan karena hatinya merasa terpanggil.
Sebagai mantan Kapolda Papua, ia dikenal tegas namun humanis menyelesaikan konflik dengan pendekatan dialog, bukan sekadar kekuatan.
Kini, ia kembali berdialog… bukan dengan masyarakat, melainkan dengan jiwanya sendiri.
🗣️ “Saya merasa damai.”
Hanya itu yang ia ucapkan ketika ditanya alasannya memeluk Islam. Singkat. Tanpa retorika. Tanpa sensasi. Namun dari kalimat sederhana itu, terpancar ketenangan yang tak bisa dibuat-buat.
Perjalanannya tak berhenti di sana. Setelah melalui pemungutan suara Ulang Pilkada Papua 2025, Mathius Derek Fakhiri ditetapkan sebagai Gubernur Papua terpilih dan dilantik oleh Prabowo Subianto pada 8 Oktober 2025 untuk masa jabatan 2025–2030.
Dari seorang jenderal polisi… menjadi pemimpin daerah. Dari seragam dinas… menuju pakaian sederhana seorang hamba.
Ia pernah memimpin pasukan. Kini ia memimpin dirinya sendiri.
Keputusannya menjadi mualaf memang mengundang banyak perbincangan. Namun baginya, ini bukan panggung politik. Ini adalah perjalanan paling pribadi sebuah pencarian panjang yang akhirnya berlabuh pada keyakinan yang paling menentramkan hatinya.
Tak semua orang berani mengubah arah hidupnya. Tak semua orang mampu mengikuti suara hati yang paling dalam.
Kini, tanpa seragam kebesaran, tanpa pangkat di bahu, Mathius D. Fakhiri melangkah dengan keyakinan baru menjadikan Islam sebagai pijakan, dan Papua sebagai tanah pengabdian.
Kadang, hidayah datang bukan dengan gemuruh. Ia datang pelan… menyentuh hati… lalu menetap dengan damai.(*)

Posting Komentar untuk "Kisah Perjalanan Hidup Sang Gubernur Papua Dari Penganut Hindu Pindah ke Agama Islam "