*PENGADILAN NEGERI SEMARANG*
*Pagi itu Pengadilan Negeri Semarang dipenuhi hiruk-pikuk seperti biasa.*
* Di antara kerumunan orang yang menunggu giliran, tampak seorang lelaki tua berambut putih mengenakan surjan dan blangkon lusuh.
* Tangannya yang keriput menggenggam erat selembar surat pengaduan.
* Matanya yang sayu sesekali menatap kosong ke arah pintu ruang sidang.
*"Bapak Sastro Wijoyo ?"* panggil petugas pengadilan.
*Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu berjalan tertatih masuk ke ruang sidang.* *Hakim Ketua Pak Bambang Suryanto,* memperhatikannya dengan seksama.
Di sampingnya duduk dua hakim anggota yang juga tampak penasaran.
*"Silakan duduk, Pak.*
Bapak mengajukan gugatan, ya ?
Terhadap siapa?"
*tanya Pak Bambang sambil membuka berkas.*
*"Maaf, Pak Hakim. Saya menggugat anak saya sendiri. Namanya Arya Satria Wijoyo,"*
jawab Pak Sastro pelan, hampir berbisik.
*Pak Bambang mengangkat alisnya, melirik sebentar ke arah rekan-rekannya yang juga tampak terkejut.* Suasana ruang sidang mendadak hening.
*Baik, Pak Sastro :*
Bisa dijelaskan, apa tuntutan Bapak ?"
*Pak Sastro menarik napas panjang*
Sederhana saja, Pak.
Saya minta anak saya memberi nafkah bulanan sesuai kemampuannya.
*Oh, itu hak Bapak, kok.* Secara hukum dan agama, anak wajib memberi nafkah kepada orang tua.
Tidak perlu diperdebatkan lagi,
*ujar Pak Bambang mantap*
*"Tapi, Pak Hakim..."*
Pak Sastro mengusap wajahnya yang tampak lelah.
"Saya sebenarnya mampu. Punya tanah warisan, punya rumah, tabungan juga ada. Saya tidak butuh uang."
*Ruangan kembali sunyi* Pak Bambang dan kedua hakim anggota saling berpandangan bingung.
*"Lalu maksud Bapak apa ?"*
tanya Pak Bambang, kali ini dengan nada lebih lembut.
*"Saya cuma mau minta uang jajan dari anak saya, Pak. Berapa pun, terserah dia. Yang penting... ada."*
*Pak Bambang tercenung*
Ada sesuatu yang tidak biasa dari kasus ini. "Baiklah. Kami akan memanggil anak Bapak. Tolong sebutkan alamatnya."
*Beberapa hari kemudian, sidang kedua digelar*
Kali ini Arya Satria hadir—pria berusia empat puluhan, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan rapi.
*Wajahnya tampak tegang, bingung bercampur malu.*
Di sampingnya, Pak Sastro duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.
*"Saudara Arya Satria Wijoyo ?"*
Pak Bambang membuka sidang.
*"Benar, Pak Hakim."*
"Apakah Bapak Sastro ini Ayah Saudara ?"
"Iya, Pak.
Beliau bapak saya," :
*jawab Arya sambil menunduk.*
"Bapak Saudara mengajukan gugatan, meminta nafkah bulanan dari Saudara.
*Apa tanggapan Saudara ?*
*Arya mengangkat wajahnya, menatap Ayahnya sebentar, lalu kembali ke hakim*
*Pak Hakim, saya bingung.*
* Bapak punya uang.
* Rumahnya besar, di Jalan Pandanaran.
* Punya sawah di Ungaran, beberapa kios di Johar juga.
* Kenapa tiba-tiba minta nafkah dari saya ?
*Pak Bambang menoleh ke Pak Sastro.*
"Bagaimana, Pak ?"
*"Memang begitu, Pak Hakim. Tapi ini hak saya sebagai bapak, kan ? Dan saya cuma minta sedikit,"* ujar Pak Sastro tenang.
*"Berapa yang Bapak minta ?"*
"Lima puluh ribu sebulan, Pak. Cukup."
*Seluruh ruangan terhenyak.*
Lima puluh ribu ?
Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari di kota seperti Semarang.
*Arya geleng-geleng kepala*
"Pak Hakim, ini aneh.
Lima puluh ribu itu... bahkan untuk ongkos ojek saja kurang."
*"Tapi itulah maunya saya,"* sergah Pak Sastro dengan suara yang mulai bergetar. *"Dan saya minta diserahkan langsung. Dari tangan kamu ke tangan saya. Tiap bulan. Tanpa perantara."*
*Pak Bambang mulai memahami sesuatu.* Tatapannya melembut.
"Baiklah.
Majelis hakim telah mendengar keterangan dari kedua pihak."
*Ia mengetuk palu pelan.*
*Kami memutuskan :* tergugat, Arya Satria Wijoyo, wajib memberikan nafkah bulanan kepada ayahnya, Sastro Wijoyo, sebesar lima puluh ribu rupiah, diserahkan langsung dari tangan ke tangan, setiap tanggal lima, seumur hidup ayahnya. Sidang ditutup."
*Arya terdiam.*
Pak Sastro mengangguk pelan, tangannya gemetar saat menerima salinan putusan.
*Sebelum mereka berdiri, Pak Bambang mengangkat tangan.*
"Tunggu dulu. Pak Sastro, boleh saya bertanya sesuatu ?"
*Pak Sastro menoleh.*
"Kenapa Bapak sampai segini, Pak ?
Kenapa minta jumlah sekecil itu padahal Bapak tidak butuh ?"
*Hening sesaat.*
Pak Sastro menarik napas panjang. Air matanya mulai membasahi pipi keriputnya.
*"Pak Hakim..." suaranya bergetar.*
* "Saya kangen sama anak saya.
* Sudah setahun lebih, kami tidak ketemu.
* Dia sibuk kerja, katanya.
* Telepon pun jarang.
* Padahal rumah kami cuma beda kelurahan.
* Saya tidak marah, Pak.
* Tapi hati saya sakit.
* Saya sudah tua.
* Entah berapa lama lagi saya bisa lihat wajahnya."
*Ruangan seperti kehilangan udara*
* "Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim.
* Saya cuma butuh dia datang.
* Walau cuma sebulan sekali. Walau cuma lima menit ngobrol di teras sambil serahkan uang lima puluh ribu itu... sudah cukup buat saya.
* Sudah cukup untuk bikin saya bahagia sampai bulan depan."
* Arya membeku. Wajahnya pucat.
* Tangannya mengepal di pangkuan.
* Pak Bambang mengusap matanya.
* Kedua hakim anggota menunduk dalam-dalam.
* Beberapa orang di ruang sidang terisak pelan.
*"Ya Allah, Pak Sastro..."*
Pak Bambang menggeleng.
* "Kalau dari awal Bapak bilang begini, saya akan hukum anak Bapak lebih berat.
* Saya akan masukkan penjara kalau perlu."
*Pak Sastro tersenyum tipis, meski air matanya terus mengalir.*
*"Tidak usah, Pak Hakim.*
* Saya tidak mau sakiti hati anak saya.
* Keputusan ini saja sudah cukup.
* Saya cuma mau dia ingat... bahwa Bapaknya masih hidup.
* Masih menunggu."
*Arya akhirnya menangis.*
* Ia bangkit,
* berlutut di depan Ayahnya,
* memeluk kaki tua yang sudah mulai lemah itu.
*"Maafkan saya, Pak.* Maafkan Arya..."
Pak Sastro mengelus kepala anaknya dengan tangan yang gemetar.
*"Kamu tidak salah, Le. Bapak cuma kangen."*
*Pak Bambang menutup berkasnya pelan, lalu berbisik kepada hakim anggota di sebelahnya.* "Semoga anak-anak kita tidak menunggu sampai ada putusan pengadilan untuk ingat orang tua mereka."
*Ruang sidang itu pagi itu dipenuhi isak tangis—bukan karena keadilan yang ditegakkan,*
tapi karena kerinduan yang terluka.
*Sahabat Kisah,*
*Kadang, yang paling mahal bukan uang.*
Tapi waktu. Dan kadang, yang paling sakit bukan kemiskinan.
Tapi dilupakan oleh orang yang kita cintai.
Pesan : "Sehebat apapun kamu hari ini, jangan lupa, kamu tidak ada apa-apanya tanpa kedua orang tuamu".

Posting Komentar untuk "RENUNGAN"