Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

RENUNGAN


*PENGADILAN NEGERI SEMARANG*

*Pagi itu Pengadilan Negeri Semarang dipenuhi hiruk-pikuk seperti biasa.*

* Di antara kerumunan orang yang menunggu giliran, tampak seorang lelaki tua berambut putih mengenakan surjan dan blangkon lusuh. 

* Tangannya yang keriput menggenggam erat selembar surat pengaduan. 

* Matanya yang sayu sesekali menatap kosong ke arah pintu ruang sidang.

*"Bapak Sastro Wijoyo ?"* panggil petugas pengadilan.

*Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu berjalan tertatih masuk ke ruang sidang.* *Hakim Ketua  Pak Bambang Suryanto,* memperhatikannya dengan seksama. 

Di sampingnya duduk dua hakim anggota yang juga tampak penasaran.

*"Silakan duduk, Pak.*

Bapak mengajukan gugatan, ya ? 

Terhadap siapa?" 

*tanya Pak Bambang sambil membuka berkas.*

*"Maaf, Pak Hakim. Saya menggugat anak saya sendiri. Namanya Arya Satria Wijoyo,"*

jawab Pak Sastro pelan, hampir berbisik.

*Pak Bambang mengangkat alisnya, melirik sebentar ke arah rekan-rekannya yang juga tampak terkejut.* Suasana ruang sidang mendadak hening.

*Baik, Pak Sastro :*

Bisa dijelaskan, apa tuntutan Bapak ?"

*Pak Sastro menarik napas panjang* 

Sederhana saja, Pak. 

Saya minta anak saya memberi nafkah bulanan sesuai kemampuannya.

*Oh, itu hak Bapak, kok.* Secara hukum dan agama, anak wajib memberi nafkah kepada orang tua. 

Tidak perlu diperdebatkan lagi,

*ujar Pak Bambang mantap*

*"Tapi, Pak Hakim..."*

Pak Sastro mengusap wajahnya yang tampak lelah. 

"Saya sebenarnya mampu. Punya tanah warisan, punya rumah, tabungan juga ada. Saya tidak butuh uang."

*Ruangan kembali sunyi* Pak Bambang dan kedua hakim anggota saling berpandangan bingung.

*"Lalu maksud Bapak apa ?"* 

tanya Pak Bambang, kali ini dengan nada lebih lembut.

*"Saya cuma mau minta uang jajan dari anak saya, Pak. Berapa pun, terserah dia. Yang penting... ada."*

*Pak Bambang tercenung* 

Ada sesuatu yang tidak biasa dari kasus ini. "Baiklah. Kami akan memanggil anak Bapak. Tolong sebutkan alamatnya."

*Beberapa hari kemudian, sidang kedua digelar*

Kali ini Arya Satria hadir—pria berusia empat puluhan, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan rapi. 

*Wajahnya tampak tegang, bingung bercampur malu.* 

Di sampingnya, Pak Sastro duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.

*"Saudara Arya Satria Wijoyo ?"* 

Pak Bambang membuka sidang.

*"Benar, Pak Hakim."*

"Apakah Bapak Sastro ini Ayah Saudara ?"

"Iya, Pak. 

Beliau bapak saya," :

*jawab Arya sambil menunduk.*

"Bapak Saudara mengajukan gugatan, meminta nafkah bulanan dari Saudara. 

*Apa tanggapan Saudara ?*

*Arya mengangkat wajahnya, menatap Ayahnya sebentar, lalu kembali ke hakim*

*Pak Hakim, saya bingung.*

* Bapak punya uang. 

* Rumahnya besar, di Jalan Pandanaran. 

* Punya sawah di Ungaran, beberapa kios di Johar juga. 

* Kenapa tiba-tiba minta nafkah dari saya ?

*Pak Bambang menoleh ke Pak Sastro.* 

"Bagaimana, Pak ?"

*"Memang begitu, Pak Hakim. Tapi ini hak saya sebagai bapak, kan ? Dan saya cuma minta sedikit,"* ujar Pak Sastro tenang.

*"Berapa yang Bapak minta ?"*

"Lima puluh ribu sebulan, Pak. Cukup."

*Seluruh ruangan terhenyak.*

Lima puluh ribu ? 

Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari di kota seperti Semarang.

*Arya geleng-geleng kepala* 

"Pak Hakim, ini aneh. 

Lima puluh ribu itu... bahkan untuk ongkos ojek saja kurang."

*"Tapi itulah maunya saya,"* sergah Pak Sastro dengan suara yang mulai bergetar. *"Dan saya minta diserahkan langsung. Dari tangan kamu ke tangan saya. Tiap bulan. Tanpa perantara."*

*Pak Bambang mulai memahami sesuatu.* Tatapannya melembut.

"Baiklah. 

Majelis hakim telah mendengar keterangan dari kedua pihak." 

*Ia mengetuk palu pelan.* 

*Kami memutuskan :* tergugat, Arya Satria Wijoyo, wajib memberikan nafkah bulanan kepada ayahnya, Sastro Wijoyo, sebesar lima puluh ribu rupiah, diserahkan langsung dari tangan ke tangan, setiap tanggal lima, seumur hidup ayahnya. Sidang ditutup."

*Arya terdiam.*

Pak Sastro mengangguk pelan, tangannya gemetar saat menerima salinan putusan.

*Sebelum mereka berdiri, Pak Bambang mengangkat tangan.*

"Tunggu dulu. Pak Sastro, boleh saya bertanya sesuatu ?"

*Pak Sastro menoleh.*

"Kenapa Bapak sampai segini, Pak ? 

Kenapa minta jumlah sekecil itu padahal Bapak tidak butuh ?"

*Hening sesaat.* 

Pak Sastro menarik napas panjang. Air matanya mulai membasahi pipi keriputnya.

*"Pak Hakim..." suaranya bergetar.* 

* "Saya kangen sama anak saya. 

* Sudah setahun lebih, kami tidak ketemu. 

* Dia sibuk kerja, katanya.

* Telepon pun jarang. 

* Padahal rumah kami cuma beda kelurahan. 

* Saya tidak marah, Pak. 

* Tapi hati saya sakit. 

* Saya sudah tua. 

* Entah berapa lama lagi saya bisa lihat wajahnya."

*Ruangan seperti kehilangan udara*

* "Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim. 

* Saya cuma butuh dia datang. 

* Walau cuma sebulan sekali. Walau cuma lima menit ngobrol di teras sambil serahkan uang lima puluh ribu itu... sudah cukup buat saya. 

* Sudah cukup untuk bikin saya bahagia sampai bulan depan."

* Arya membeku. Wajahnya pucat. 

* Tangannya mengepal di pangkuan.

* Pak Bambang mengusap matanya. 

* Kedua hakim anggota menunduk dalam-dalam.

* Beberapa orang di ruang sidang terisak pelan.

*"Ya Allah, Pak Sastro..."*

Pak Bambang menggeleng. 

* "Kalau dari awal Bapak bilang begini, saya akan hukum anak Bapak lebih berat. 

* Saya akan masukkan penjara kalau perlu."

*Pak Sastro tersenyum tipis, meski air matanya terus mengalir.* 

*"Tidak usah, Pak Hakim.* 

* Saya tidak mau sakiti hati anak saya. 

* Keputusan ini saja sudah cukup. 

* Saya cuma mau dia ingat... bahwa Bapaknya masih hidup. 

* Masih menunggu."

*Arya akhirnya menangis.*

* Ia bangkit, 

* berlutut di depan Ayahnya, 

* memeluk kaki tua yang sudah mulai lemah itu.

*"Maafkan saya, Pak.* Maafkan Arya..."

Pak Sastro mengelus kepala anaknya dengan tangan yang gemetar. 

*"Kamu tidak salah, Le. Bapak cuma kangen."*

*Pak Bambang menutup berkasnya pelan, lalu berbisik kepada hakim anggota di sebelahnya.* "Semoga anak-anak kita tidak menunggu sampai ada putusan pengadilan untuk ingat orang tua mereka."

*Ruang sidang itu pagi itu dipenuhi isak tangis—bukan karena keadilan yang ditegakkan,*

tapi karena kerinduan yang terluka.

*Sahabat Kisah,*

*Kadang, yang paling mahal bukan uang.*

Tapi waktu. Dan kadang, yang paling sakit bukan kemiskinan. 

Tapi dilupakan oleh orang yang kita cintai.

Pesan : "Sehebat apapun kamu hari ini, jangan lupa, kamu tidak ada apa-apanya tanpa kedua orang tuamu".

Posting Komentar untuk "RENUNGAN"