Kisah Jenderal TNI Sedih Lihat Ribuan Prajurit Kopassus Menangis Lepaskan Baret Merah Kebanggaan.
Di tubuh Tentara Nasional Indonesia, ada satu kisah yang hingga kini dikenang dengan getar emosi. Sebuah momen pada era 1980-an, ketika ribuan prajurit Komando Pasukan Khusus harus melepaskan baret merah—simbol kehormatan, keberanian, dan kebanggaan tertinggi seorang komando.
Kisah ini dialami langsung oleh Sintong Panjaitan, yang saat itu menjabat sebagai komandan pertama Grup 3 Para Komando.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan perampingan organisasi di tubuh ABRI, yang digagas Panglima saat itu, Benny Moerdani, berdampak besar pada satuan elite tersebut.
Sejak awal, Sintong menentang rencana perampingan. Baginya, mengurangi jumlah prajurit bukanlah solusi efisiensi.
Ia berargumen bahwa pasukan kecil justru membutuhkan biaya latihan lebih besar untuk menjaga kualitas tempur. Namun keputusan telah dibuat. Seleksi tetap dilaksanakan.
Tahun 1986 di Sukabumi menjadi saksi ujian berat itu. Sekitar 6.400 prajurit Kopassus menjalani tes fisik, mental, intelektual, hingga ketahanan psikologis selama sepekan penuh.
Ujian dilakukan satu per satu, diawasi ketat, bahkan melibatkan psikiater. Patroli malam, kurang tidur, hingga pengujian disiplin menjadi bagian dari seleksi.
Hasilnya menyisakan pilu: hanya sekitar 2.500 prajurit yang dinyatakan lulus dan tetap berhak mengenakan baret merah. Sisanya harus menerima kenyataan pahit dialihkan menjadi prajurit Kostrad dengan baret hijau.
Bagi banyak prajurit, baret merah bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah identitas, harga diri, dan simbol tempaan keras yang tak semua orang mampu melewatinya. Saat prosesi pergantian baret di Kesatrian Kariango berlangsung, suasana berubah haru.
Ribuan prajurit berdiri tegap dalam upacara. Lalu satu per satu menundukkan kepala, melepas baret merah dari kepala mereka, dan menggantinya dengan baret hijau.
Tangis pecah. Bahkan sempat terjadi aksi protes dari sebagian prajurit yang tak menerima hasil seleksi.
Sintong Panjaitan mengaku tak kuasa menahan kesedihan. Baginya, mereka bukan sekadar anak buah mereka adalah prajurit-prajurit terbaik yang telah ditempa dengan semangat komando.
Di sisi lain, Kolonel Inf Tarub yang kemudian menjadi Komandan Brigif Linud 3/Kostrad juga merasakan pedih yang sama.
Saat baret merahnya dilepas, ia meminta izin untuk berlutut, sebagaimana dulu ia menerimanya dengan penuh khidmat. Baginya, melepas baret merah adalah momen sakral.
Namun di tengah air mata itu, semangat tak boleh padam. Para pemimpin berusaha menanamkan keyakinan bahwa jiwa komando bukan terletak pada warna baret, melainkan di dada dan semangat pengabdian. “Baret itu tidak masalah, yang penting ada di sini,” ujar Tarub, menunjuk dadanya.
Peristiwa ini bukan sekadar reorganisasi militer. Ia adalah potret tentang loyalitas, pengorbanan, dan harga diri seorang prajurit.
Tentang bagaimana simbol bisa begitu bermakna, dan bagaimana semangat harus tetap menyala meski atribut berubah warna.(*)


Posting Komentar untuk "Ribuan Prajurit Kopassus Menangis Lepaskan Baret Merah Kebanggaan"