Pada 21 Mei 1920, Rappang menjadi saksi lahirnya seorang bayi bernama Abdul Muin Yusuf. Ia mewarisi darah ulama dari Wajo dan kebangsawanan dari Sullewatang Rappang.
Namun, bukan gelar yang dikejarnya, melainkan cahaya ilmu. Sang nenek, Puang Ngakka, bahkan rela melepas kepingan tanah miliknya demi memastikan sang cucu menjemput takdirnya menjadi seorang Panrita.
Langkah kecilnya bermula di bawah bimbingan Haji Patang, lalu menyeberang ke Madrasah Aunur Rafieq. Di sana, pamannya—Syeikh Ali Mathar—serta seorang ulama Madinah telah melihat binar istimewa di mata Muin kecil.
Mereka tahu, ia bukan sekadar penuntut ilmu; ia adalah penjaga iman di masa depan.Jejak Langkah: Dari Sengkang ke Tanah Suci
Pengembaraan cintanya pada ilmu membawanya ke MAI Singkang (1943). Di sana, ia bersahabat dengan ulama-ulama besar seperti AGH Ambo Dalle. Tak berhenti di tanah Bugis, ia melintas samudera menuju Mekah.
Di Madrasah Darul Falah, kecerdasannya mekar sempurna; ia meraih peringkat kedua, tepat satu tingkat di bawah sang legenda Al-Azhar, Syeikh Muhammad Syalthout.
Sekembalinya ke tanah air, ia diangkat menjadi Qadi (Kali) Sidenreng, penegak hukum Tuhan yang bijaksana, hingga sapaan "Gurutta Kali Sidenreng" melekat abadi dalam doa-doa warga.
Gurutta bukan ulama yang hanya diam di atas menara gading. Ia adalah pejuang yang memeluk tanah airnya dengan keberanian.
Diplomasi & Perlawanan: Ia membentuk PNI Cabang Rappang dan pernah memimpin serangan bambu runcing melawan Belanda.
Hutan Pergolakan: Takdir membawanya ke dalam pusaran DI/TII bersama Kahar Muzakkar. Di sana, ia melihat keajaiban peluru yang meleset, namun hatinya tetap berpijak pada kedamaian.
Lahirnya DDI: Di tengah persembunyiannya di Soppeng, ia menjadi salah satu bidan lahirnya Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI), organisasi yang menjadi muara dakwah di Sulawesi Selatan.
Menara Kesederhanaan: Urwatul Wutsqa
Tahun 1974, ia menanam benih peradaban berupa Pesantren Urwatul Wutsqa di Baranti. Di rumah sempit yang dindingnya adalah lemari kitab-kitab turas, Gurutta hidup bersahaja. Baginya, tangan di atas jauh lebih mulia daripada menghamba pada kekuasaan.
Meski menjabat Ketua MUI Sulawesi Selatan selama beberapa periode dan menjadi pelopor lahirnya Tafsir Al-Quran berbahasa Bugis, ia tetaplah sosok yang bersedia turun ke desa terpencil hanya untuk mendengar khutbah seorang pegawai syara’.
"Ilmunya setinggi langit, namun hatinya serendah rumput. Ia memimpin dengan doa, berjuang dengan senjata, dan mendidik dengan cinta."
AGH Abdul Muin Yusuf (1920–2004) telah pulang, namun wangi kitab-kitabnya dan gema dakwahnya dalam bahasa Bugis tetap hidup, menjadi kompas bagi umat di tengah badai zaman. AL Fatihah Anre Gurutta..
.#guruttakalisidenreng #

Posting Komentar untuk "Sang Pelita di Tanah Rappang Anre Gurutta Muin Yusuf"