Andi Selle yang bergaung panjang dalam ingatan sejarah Sulawesi, terutama di Mandar dan pesisir barat Sulawesi Selatan.
Ia bukan sekadar perwira militer, melainkan figur kuat yang hidup di antara senjata, perdagangan, dan kekuasaan lokal.
Lahir di Pinrang pada 1925 dari keluarga bangsawan Bugis, hidupnya sejak awal ditempa kekerasan sejarah.
Ayahnya tewas dalam operasi pembersihan pasukan Raymond Westerling, sebuah luka kolektif yang membentuk generasi pejuang Sulawesi pada masa revolusi.
Sejarah Jejak Andi Selle mula-mula berangkat dari jalur republik. Ia ikut membentuk Barisan Pemberontak Republik Indonesia bersama Abdullah Bau Massepe di Parepare, lalu menyusuri Jawa pada masa revolusi fisik.Setelah Bau Massepe gugur, Andi Selle mengambil peran pengganti—Mattola—memimpin Batalyon Bau Massepe dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan di bawah Kahar Muzakkar.
Ia kemudian masuk TNI dan menjadi perwira menengah, memimpin bekas pasukannya dalam Batalyon 719. Di titik inilah kekuasaan senjata bertemu kepentingan ekonomi.
Sebagai penguasa lapangan, Andi Selle mengendalikan wilayah luas: Polewali, Mamasa, Mamuju, hingga Majene. Ia membangun jaringan perdagangan beras dan kopra, memonopoli distribusi hasil bumi, bahkan membuka jalur dagang lintas laut ke Sabah, Malaysia.
Sejarawan mencatat, dari tangan Andi Selle pula cikal bakal penanaman kakao di Sulawesi Barat berkembang, jauh sebelum komoditas itu meledak pada 1970-an.
Kekayaannya menopang pasukan yang jumlahnya jauh melampaui satu batalion standar. Ribuan personel, senjata, kendaraan, hingga perumahan tentara dibiayai dari uang dagangannya.
Namun kekuatan itu menyisakan bayang-bayang gelap. Di Mamasa, kisah lisan tentang pembakaran rumah, kekerasan, hingga pembantaian oleh pasukannya hidup turun-temurun.
Rakyat desa membentuk perlawanan bersenjata dengan senjata seadanya, bahkan meminjam nama Toraja untuk menggertak mental pasukan Selle.
Sebagai warlord, ia dikenal royal pada anak buah, tetapi juga ditakuti oleh warga sipil. Kekayaan memberinya loyalitas, sekaligus kecurigaan negara.
Hubungannya dengan Kahar Muzakkar—yang kemudian dicap pemberontak Darul Islam—memperuncing posisi Andi Selle. Ia dianggap simpul logistik penting bagi gerilyawan.
Ketika Kolonel M. Jusuf memimpin Kodam XIV/Hasanuddin, pendekatan lunak berubah menjadi tekanan militer.
Jusuf, sesama putra Sulawesi, sempat mengajak Selle “kembali ke jalan yang benar”.
Pertemuan di Pinrang, 5 April 1964, justru berakhir kacau. Tembakan pecah, Kolonel CPM Sugiri tewas, dan Andi Selle melarikan diri.
Akhirnya, kekuasaan yang dibangun dari senjata dan uang runtuh oleh senjata pula. Dalam operasi penyergapan di Sungai Mamasa, 30 Agustus 1964, Andi Selle tewas dalam pelarian.
Jenazahnya baru ditemukan berminggu-minggu kemudian. Ia dipecat tidak hormat dari TNI, hartanya disita negara.
Kisahnya menutup satu bab kelam revolusi Sulawesi: tentang seorang pejuang yang menjadi warlord, tentang idealisme yang tergelincir oleh kekuasaan, dan tentang sejarah yang selalu meninggalkan jejak getir di tanah yang dilaluinya.(*)

Posting Komentar untuk "Setelah Bau Massepe Gugur, Andi Selle Ambil Peran Mengganti Pimpinan Batalyon Bau Massepe"