Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Susi, Biaya Kuliah Bukan Hanya Rupiah Tapi Pakai Keringat Do'a Dan Harapan


MasyaAllah...

Susilawati lahir di sebuah dusun kecil bernama Mungguk,  Desa Tirtanadi, Labuhan Haji, Lombok Timur, lahirlah mimpi besar dari seorang anak petani jagung. 

Namanya Susilawati. Hari ini ia berdiri tegak di hari wisudanya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UM Surabaya — sebuah pencapaian yang tidak hanya miliknya, tetapi juga milik doa-doa panjang kedua orang tuanya.

Menjadi mahasiswa kedokteran bukan perkara mudah. Bukan hanya tentang buku tebal dan tugas tanpa henti, tetapi juga tentang biaya yang seringkali membuat banyak mimpi terhenti di tengah jalan. Namun bagi Susi tak kenal putusasa, menyerah bukan pilihan.

Sejak kecil, hatinya  maju terus setiap kali melihat warga desanya harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk berobat. Akses rumah sakit yang terbatas dan klin!k yang jauh membuat banyak orang menahan sakit lebih lama dari seharusnya.

“Dulu saya kasihan melihat orang-orang berobat. Sejak saat itu saya ingin jadi dokter, supaya bisa membantu warga di sini,” ucapnya lirih.

Mimpi itu bukan hanya miliknya. Ayah dan ibunya juga menyimp4n harapan yang sama. Tapi keadaan ekonomi belum berpihak. 

Setelah lulus SMA, Susi harus mengvbvr sementara cita-cita itu dan memilih kuliah D3 Farmasi di Jogja. Bukan karena tak ingin menjadi dokter, tetapi karena keadaan mem4ks4 untuk realistis .

Dengan penuh syukur ia menyelesaikan Farm4si. Hingga suatu hari, rezeki datang lewat panen jagung yang melimp4h. Dari hasil bumi itulah, seorang ayah kembali menghidvpkan mimpi an4knya.

“Kalau bukan sekarang, kapan  lagi” mungkin itu yang terlintas di hati sang ayah saat mendorong Susi mendaftar S1 Pendidikan Dokter di UM Surabaya.

Di tengah pand3mi C0v1d-19, potongan biaya pendidikan sebesar 14 juta rupiah menjadi angin segar bagi keluarga sederhana itu. 

Namun perjuangan belum usai. Ketika musim pan3n belum tiba, sang ayah harus meminj4m uang demi membay4r kuliah an4knya.

“Kalau belum pan3n, pinj4m dulu. Nanti kalau sudah pan3n baru dibay4r ,” kata Susi, dengan suara yang menyimp4n rasa haru.

Ayahnya bukan hanya petani jagung. Ia pernah menjadi kusir bec4k. Mengayvh rod4 kehidupan agar an4knya bisa melangkah lebih jauh. 

Dari sawah yang panennya hanya dua sampai tiga kali setahun, lahirlah seorang sarjana pertama di keluarga itu.

Susi, Biaya Kuliah  Bukan Hanya Rupiah Tapi  Pakai Keringat  Do'a Dan Harapan

Susi tahu betul setiap rupiah yang dibayarkan bukan sekedar uang, melainkan keringat, doa, dan harapan.“Saya tidak ingin mengecew4kan bapak. 

Cita-cita beliau sangat mulia. Saya harus memberikan yang terbaik,” ujarnya penuh tekad.

Awal Agustus ini, biaya pendidikannya akhirnya lunas. Sebuah kelegaan yang tak bisa diukur dengan angka. Tangis syukur orang tuanya menjadi saksi bahwa perjuangan panjang itu tidak sia-sia.

Namun bagi Susi, ini bukan akhir. Ini adalah awal dari pengabdian.

Ia ingin kembali ke desanya. Membangun klinik. Membuka akses kesehatan agar tak ada lagi warga yang menahan sakit karena jarak dan keterbatasan.

Dari ladang jagung, lahir harapan. Dari becak yang dikayuh pelan, tumbuh cita-cita besar. Dan dari doa orang tua yang tak pernah putvs, berdirilah seorang calon dokter yang ingin mengabdi.

“Moh0n doanya, semoga saya bisa menjadi dokter yang amanah, profesional, dan bermanfaat bagi banyak orang.”

Karena sesungguhnya, mimpi yang diperjuangkan dengan air mata dan doa… akan selalu menemukan jalannya.(*)

Posting Komentar untuk "Susi, Biaya Kuliah Bukan Hanya Rupiah Tapi Pakai Keringat Do'a Dan Harapan"