Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Pemulung Masuk Bank Untuk Tarik Rp100.000, Tapi Saat Petugas Lihat No. Rekening Mendadak Hening

Pagi itu hujan turun tipis di kota Bandung.

Tidak deras, hanya gerimis yang cukup untuk membuat trotoar basah dan orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya.

Di depan gedung kaca tinggi Bank Mandala Raya, seorang wanita berdiri ragu.

Namanya Lestari Widjaja.

Usianya tiga puluh dua tahun.

Namun kehidupan membuatnya terlihat jauh lebih tua.

Mantel cokelat yang ia kenakan sudah robek di bagian bahu. Sepatunya tidak lagi memiliki bentuk asli karena terlalu sering dipakai berjalan jauh.

Di tangannya ada tas kain kecil.

Dan di dalam tas itu… ada satu benda yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun.

Sebuah kartu.

Bukan kartu ATM biasa.

Bukan plastik.

Melainkan kartu logam berwarna perak kusam, dengan nomor panjang yang terukir sangat rapi.

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk.

Begitu pintu otomatis terbuka, udara hangat dari dalam ruangan langsung menyentuh wajahnya.

Lantai marmer mengilap.

Lampu gantung kristal.

Orang-orang dengan jas mahal dan sepatu bersih.

Beberapa dari mereka langsung meliriknya.

Sebagian dengan rasa kasihan.

Sebagian lagi dengan tatapan tidak suka.

Seolah-olah ia mengotori ruangan hanya dengan berada di sana.

Lestari menunduk.

Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.

Selama dua tahun terakhir, ia hidup dari memulung kardus dan botol plastik.

Bukan hidup yang pernah ia bayangkan.

Tapi hidup yang tersisa setelah semuanya runtuh.

Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki kecil.

Usianya sekitar tujuh tahun.

Namanya Rafi.

“Bu… kita benar di sini?” bisiknya pelan.

Lestari mengangguk walau sebenarnya ia sendiri tidak yakin.

“Iya.”

Rafi melihat sekeliling dengan mata besar.

“Ini bank besar sekali…”

Lestari menggenggam tangan anaknya lebih erat.

“Ayo.”

Mereka berjalan menuju meja teller.

Seorang wanita muda dengan seragam rapi tersenyum profesional.

“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?”

Lestari ragu sejenak.

Lalu ia mengeluarkan kartu logam itu dari tasnya.

Teller itu mengerutkan kening.

Ia belum pernah melihat kartu seperti itu.

“Maaf Bu… ini kartu apa?”

“Saya tidak tahu,” jawab Lestari jujur.

“Tapi ayah saya bilang… kalau saya benar-benar kesulitan… saya harus datang ke bank ini.”

Teller itu tampak bingung.

Ia membalik kartu tersebut.

Di bagian belakang ada nomor panjang dan logo bank lama yang hampir pudar.

“Boleh saya coba cek?” tanya teller.

Lestari mengangguk.

“Saya hanya ingin menarik sedikit uang… kalau memang ada.”

“Berapa?”

Lestari menelan ludah.

“Seratus ribu saja.”

Jumlah yang sangat kecil untuk bank sebesar itu.

Teller itu memasukkan nomor kartu ke komputer.

Awalnya ia tampak biasa saja.

Lalu alisnya mulai berkerut.

Ia mengetik lagi.

Layar komputer memunculkan pesan baru.

Wajahnya berubah.

Ia menatap layar lebih dekat.

Kemudian…

Ia menoleh ke arah Lestari.

“Bu… sebentar ya.”

Ia berdiri dan berjalan cepat ke ruang belakang.

Lestari langsung panik.

“Rafi… kita melakukan sesuatu yang salah ya?”

Anaknya menggeleng.

Beberapa menit kemudian…

Seorang pria berjas gelap keluar dari ruangan itu.

Direktur cabang.

Di belakangnya ada dua pegawai lain.

Mereka berjalan langsung ke meja teller.

Semua orang di bank mulai memperhatikan.

Direktur itu melihat kartu di meja.

Lalu menatap Lestari.

“Apakah… kartu ini milik Anda?”

“Dulu milik ayah saya,” jawab Lestari pelan.

“Namanya Arman Widjaja.”

Pria itu langsung membeku.

Ia menatap layar komputer.

Lalu menatap Lestari lagi.

“Bu… apakah Anda tahu siapa ayah Anda sebenarnya?”

Lestari menggeleng.

“Ayah saya hanya montir bengkel.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Direktur cabang menarik napas panjang.

“Bu… kartu ini bukan kartu ATM biasa.”

Ia menunjuk layar komputer.

“Ini adalah kartu akses rekening investasi lama… yang dibuat hampir tiga puluh tahun lalu.”

Lestari tidak mengerti.

“Jadi… tidak ada uang di sana?”

Direktur itu menatapnya serius.

“Sebaliknya.”

Ia memutar layar komputer ke arah Lestari.

Angka panjang terpampang di sana.

Begitu panjang hingga Lestari bahkan butuh beberapa detik untuk memahami.

Saldo rekening itu adalah:

Rp 48.750.000.000...

Part 2 in comments!

Posting Komentar untuk "Pemulung Masuk Bank Untuk Tarik Rp100.000, Tapi Saat Petugas Lihat No. Rekening Mendadak Hening "