Bayangkan…
tujuh puluh tahun bukan waktu yang sebentar.
Tujuh puluh tahun lisan itu tak pernah lelah melantunkan ayat-ayat Allah.
Tujuh puluh tahun tangan itu membimbing anak-anak kecil mengeja huruf demi huruf,
hingga fasih membaca Kalamullah.
Tujuh puluh tahun hidupnya hanya untuk satu cinta: Al-Qur’an.
Beliau bukan artis.
Bukan pejabat.
Bukan orang yang dikenal karena dunia.
Namun namanya hidup di dada ribuan murid.
Murid yang kini mengimami shalat di berbagai penjuru dunia.
Murid yang meneruskan cahaya ilmu hingga lebih dari lima puluh negara.
Hari itu, seorang ulama besar kembali kepada Rabb-nya.
Syaikh Abul Hasan al-Kurdi wafat dalam keadaan tersenyum.
Seakan Allah sedang memperlihatkan kepadanya:
“Lihatlah… inilah buah dari seluruh pengabdianmu.”
Beliau tidak membawa harta.
Tidak membawa gelar.
Namun beliau membawa amal yang tak terputus.
Ilmu yang terus hidup.
Ayat-ayat yang terus dibaca, bahkan setelah jasadnya terbaring tenang.
Ramadhan datang setiap tahun.
Al-Qur’an ada di rak rumah kita.
Aplikasinya ada di genggaman kita.
Namun sudahkah ia benar-benar menjadi sahabat?
Atau hanya tamu musiman yang kita sambut sebentar, lalu kita biarkan berdebu?
Seorang ulama menghabiskan 70 tahun untuk Al-Qur’an.
Kita… sering kali 7 menit saja terasa berat.
Kisah ini bukan untuk membuat kita sekadar terharu.
Bukan hanya untuk berkata “MasyaAllah”… lalu scroll lagi.
Tapi untuk bertanya pada diri sendiri:
Jika hari terakhir kita tiba…
apa yang akan tersenyum bersama kita?
Karena pada akhirnya,
yang tersenyum di akhir hayat bukan yang paling kaya,
bukan yang paling terkenal,
melainkan yang paling setia bersama Kalam-Nya.
Semoga Allah melembutkan hati kita.
Dan menjadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan,
tetapi teman perjalanan hingga akhir kehidupan.
Al-Fatihah.

Posting Komentar untuk "Syaikh Abul Hasan al-Kurdi 70 Tahun Bersama Al-Qur’an… dan Beliau Pergi Dengan Senyuman"