Media Duta,- Sejarah mencatat bahwa pemimpin Timur Tengah yang berani menentang kebijakan Amerika dan membela Palestina seringkali berakhir tragis.
Wafatnya mereka menandai titik balik geopolitik yang besar di kawasan tersebut:
1. Raja Faisal (Arab Saudi, 1975): Wafat dihabisi setelah memimpin embargo minyak 1973 yang melumpuhkan ekonomi Barat.
Ia dianggap "berbahaya" karena menggunakan energi untuk membela kedaulatan Arab dan Palestina.
2. Saddam Hussein (Irak, 2006): ia Digulingkan melalui invasi AS tahun 2003 atas tuduhan senjata pemusnah massal yang tidak terbukti. Ia dihabisi setelah bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan Israel dan AS.
3. Muammar Gaddafi (Libya, 2011): Dihabisi secara brutal dalam perang saudara yang didukung intervensi militer NATO/AS. Gaddafi dikenal vokal menolak hegemoni Dollar dan merupakan penyokong dana utama faksi perlawanan Palestina.
4. Ayatollah Ali Khamenei (Iran, 2026): Berdasarkan laporan terbaru Maret 2026, Pemimpin Tertinggi Iran ini gugur dalam serangan udara gabungan AS-Israel di Teheran. Ia adalah arsitek utama "Poros Perlawanan" yang secara militer mengepung kepentingan Israel di kawasan.
Kesimpulan: Benang merah dari kejatuhan para tokoh ini adalah sikap anti-Israel dan penolakan terhadap campur tangan asing.
Gugurnya mereka sering kali meninggalkan kekosongan kekuasaan yang memicu ketidakstabilan panjang di Timur Tengah.(*)

Posting Komentar untuk "Syarat Jadi Pemimpin di Timteng Harus Kerjasama Sama Zionis Jika Tidak di Bunuh"