Pakar birokrasi dan ilmu pemerintahan, Prof. Riaas Rasyid, melontarkan kritik tajam terhadap warisan kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Riaas menyebut periode 10 tahun kepemimpinan Jokowi sebagai era keh4ncuran manajemen negara dan birokrasi yang paling parah sepanjang sejarah Indonesia.
Riaas Rasyid menilai bahwa di bawah kendali Jokowi, lembaga-lembaga negara mengalami kerusakan sistemik akibat intervensi politik yang masif.
Ia menyoroti pola kepemimpinan yang ia sebut sebagai "peny4nderaan" terhadap para pejabat dan pimpinan partai politik melalui kasus-kasus hukum yang sengaja disimpan untuk digunakan sebagai alat penekan.
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah isu dugaan ijazah palsu Jokowi yang menurutnya belum tuntas. Rias menyayangkan sikap institusi pendidikan seperti UGM dan kementerian terkait yang dianggap "m4ndul" dalam memberikan klarifikasi administratif yang tegas.
"Negeri ini ters4ndera oleh kerusakan yang ditimbulkan saat dia berkuasa. Persoalan sederhana seperti ijazah tidak bisa dituntaskan karena institusi penegak hukum kehilangan kepercayaan diri dan tersandera oleh orang-orang yang telah 'ditanam' Jokowi selama 10 tahun," ujar Rias.
Rias juga menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari proyeksi politik Jokowi untuk mengamankan jaringan kekuasaan yang telah ada.
Hal ini, menurut Rias, terlihat dari susunan kabinet yang dianggap "amburadul" dan gemuk demi mengakomodasi kepentingan politik.
Ia menyebut adanya dilema "utang budi" yang membuat Prabowo sulit bertindak tegas terhadap carut-marut peninggalan era sebelumnya.
Rias memperingatkan bahwa jika Prabowo tidak segera melakukan reformasi total—yang ia usulkan mencakup pergantian 80% anggota kabinet—maka pemerintahan saat ini hanya akan menjadi kelanjutan dari "era kegelapan" moralitas bangsa.
membed4h posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Rias menganalisis adanya tiga kelompok besar yang kini berhadapan dengan kepemimpinan Prabowo:
1. Kelompok Cendekiawan yang mulai pesimistis terhadap arah bangsa.
2. Kelompok Loyalis Gibran yang dianggap sedang menunggu momentum untuk mengambil alih kekuasaan jika terjadi sesuatu pada Prabowo.
3. Kelompok Religius/Ideologis yang meyakini pemerintahan ini tidak berkah karena lahir dari proses pemilu yang dianggap curang.
"Gibran dikelilingi oleh jaringan yang dibangun Jokowi. Mereka menunggu bulan jatuh. Jika Prabowo tidak waspada dan tetap terjebak dalam retorika tanpa tindakan nyata, momentum politik bisa beralih kapan saja," tambahnya.
Sebagai solusi, Rias mendesak Prabowo untuk berhenti hanya berpidato dan mulai melakukan langkah drastis. Ia menyarankan agar Prabowo hanya mempertahankan sedikit orang kepercayaan yang kompeten, seperti Sjafrie Sjamsoeddin, dan membersihkan kabinet dari anasir-anasir oportunis peninggalan masa lalu.
"Kekuasaan harus membatasi kekuasaan. Jika keadilan dilembagakan secara tidak adil—di mana yang kuat dilindungi dan yang lemah dihukum—maka itu adalah awal dari keh4ncuran sebuah bangsa,".

Posting Komentar untuk "Prof. Riaas Rasyid: "Pemerintahan Jokowi Yang Terburuk Dalam Sejarah Indonesia""