Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Sampai Kapan Nyawa Junior Dianggap Murah di Tangan Senior?

Video di atas bukan sekadar poster duka cita biasa. Ini adalah potret duka yang menyayat hati, tanda duka mendalam bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

​Kembali kita dihadapkan pada kenyataan pahit: seorang polisi muda, Bripda Natanael Sianungkalit, yang baru saja memulai pengabdiannya, harus gugur. 

Ironisnya, ia bukan gugur dalam kontak senjata melawan penjahat, melainkan gugur di tangan seniornya sendiri, di dalam Mess Polda Kepri.

​Motif yang terungkap sangat menyedihkan: masalah kedisiplinan karena almarhum diduga tidak mengikuti kegiatan kerja bakti (kurve). Hanya karena itu. 

Hanya karena satu kali absen dalam tugas rutin, seorang senior merasa berhak menggunakan kekerasan fisik yang berujung fatal.

​Ini bukan sekadar pelanggaran disiplin. Ini adalah penganiayaan keji yang mengakibatkan hilangnya nyawa. 

Tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan jiwa kesatria Bhayangkara, yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom, bukan justru menjadi ancaman bagi rekan sejawat, apalagi juniornya.

​Tradisi "Senioritas Tox!c" yang Harus Dihentikan

​Kita harus berani bertanya: Sampai kapan tradisi senioritas yang kebablasan dan penuh kekerasan ini akan terus dipelihara di institusi? Sampai kapan pola pengasuhan junior dengan cara-cara primitif seperti pemukulan dan penganiayaan dianggap wajar?

​Sangat disayangkan, meskipun tradisi senioritas yang positif untuk mentransfer ilmu dan pengalaman sangat penting, di lapangan, masih ada oknum-oknum senior yang menyalahgunakan wewenang dan pangkat mereka untuk "menghajar" juniornya. 

Di dalam kamar rusun mess, saat pemeriksaan disiplin, tindakan kekerasan terjadi dan menewaskan seorang pemuda yang memiliki masa depan cerah.

​Nyawa Junior Tidak Murah!

​Setiap nyawa anggota Polri sangat berharga. Nyawa Bripda Natanael tidak boleh dianggap murah hanya karena ia seorang junior.

 Kematian tragis ini adalah alarm keras bagi seluruh jajaran Polri, dari pimpinan tertinggi hingga anggota di lapangan, untuk serius menghentikan budaya kekerasan fisik atas nama senioritas.

​Tuntutan Keadilan dan Perubahan

​Pernyataan Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Safrudin, untuk memproses kasus ini secara pidana umum dan kode etik adalah langkah yang tepat dan harus dikawal ketat. 

Tidak boleh ada impunitas atau upaya penutupan kasus. Pelaku utama, Bripda AS, dan siapa pun yang terlibat, harus dihukum seadil-adilnya.

​Keadilan untuk Bripda Natanael bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga tentang memastikan perubahan nyata dalam budaya dan sistem pengasuhan di institusi Kepolisian.

 Jangan sampai ada lagi keluarga yang harus menerima putranya kembali dalam peti mati hanya karena "didisiplinkan" oleh seniornya.

​Stop Kekerasan di Institusi! Keadilan untuk Bripda Natanael!

​Mari kita kawal bersama kasus ini agar kebenaran dan keadilan ditegakkan.

​#Polri #KeadilanUntukBripdaNatanael #

Posting Komentar untuk "Sampai Kapan Nyawa Junior Dianggap Murah di Tangan Senior?"