Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Seorang Prajurit Kopassus Yang Mengalahkan Delapan Preman Jalan


MALAM itu, langit Sumedang diselimuti udara dingin khas pegunungan Jawa Barat. Jalanan Tanjungsari tampak lengang ketika seorang prajurit muda TNI, Wahyu Fajar Dwiyana, melaju dengan sepeda motornya usai membeli bohlam lampu menjelang persiapan hari pernikahannya.

Tak ada yang menyangka, malam sederhana pada Kamis, 25 Mei 2017 itu akan berubah menjadi kisah heroik yang menggetarkan banyak orang.

Wahyu, yang saat itu bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus Cijantung, tengah menikmati masa cuti di kampung halamannya di Sumedang.

 Sebagai seorang prajurit elite, ia terbiasa menghadapi situasi berbahaya. Namun malam itu, naluri kemanusiaannya berbicara lebih cepat daripada insting tempurnya.

Di tengah perjalanan, ia melihat seorang pengendara motor dihadang dan dikeroyok secara brutal oleh delapan pemuda mabuk.

 Teriakan korban memecah kesunyian jalan raya. Tendangan dan pukulan menghujani pria tak berdaya itu tanpa ampun.

Tanpa ragu, Wahyu menghentikan motornya.

Dengan tenang ia melangkah mendekati kerumunan dan mencoba melerai. Suaranya tegas namun tetap terkendali. 

Ia meminta para pemuda menghentikan aksi kekerasan tersebut. Bahkan ia sempat memperkenalkan diri sebagai anggota TNI agar situasi mereda.

Namun teguran itu justru memancing amarah.

Kedelapan pemuda mabuk tersebut berbalik mengepung Wahyu. Ancaman dan makian terlontar.

 Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi sangat menegangkan. Seorang diri di tengah jalan gelap, Wahyu kini menjadi sasaran pengeroyokan.

Tetapi para pelaku tidak menyadari siapa yang sedang mereka hadapi.

Dengan ketenangan luar biasa, Wahyu memasang posisi bertahan. Gerakannya cepat, presisi dan penuh perhitungan. Sebagai prajurit Kopassus, ia telah ditempa dalam disiplin tinggi dan teknik tempur jarak dekat yang mematikan namun terukur.

Serangan pertama berhasil dihindari. Sebuah pukulan balasan membuat salah satu pengeroyok tersungkur ke aspal. 

Dua orang lainnya mencoba menyerang bersamaan, tetapi Wahyu bergerak lincah mengunci dan melumpuhkan lawannya satu demi satu.

Dalam situasi kacau itu, keberanian dan kemampuan bela dirinya benar-benar terlihat.

 Ia tidak menggunakan senjata apa pun. Hanya tangan kosong, refleks cepat, dan teknik militer yang terlatih.

Salah satu pelaku akhirnya roboh tak berdaya di jalan. Melihat rekannya tumbang dan perlawanan Wahyu yang begitu luar biasa, tujuh pelaku lainnya panik lalu melarikan diri ke berbagai arah.

Jalanan yang tadinya dipenuhi teriakan mendadak sunyi.

Wahyu kemudian mengamankan satu pelaku yang berhasil dilumpuhkan dan membawa kasus tersebut ke Koramil Tanjungsari bersama korban pengeroyokan sebagai saksi. Setelah itu, pelaku diserahkan kepada Polsek Tanjungsari untuk menjalani proses hukum.

Kisah keberanian prajurit muda asal Sumedang itu pun cepat menyebar ke media sosial dan menjadi viral di seluruh Indonesia. Banyak orang kagum pada keberaniannya menghadapi delapan preman seorang diri tanpa senjata, namun lebih kagum lagi karena ia memilih menolong warga yang bahkan tidak dikenalnya.

Bagi masyarakat, aksi tersebut bukan sekadar perkelahian biasa. 

Sosok Wahyu Fajar Dwiyana dianggap mencerminkan jati diri seorang prajurit TNI yang gagah berani, disiplin, melindungi rakyat dan tetap mengedepankan kemanusiaan.

Di balik wajah rupawannya yang sempat ramai dibicarakan netizen, tersimpan mental baja seorang prajurit yang rela mempertaruhkan dirinya demi menolong orang lain di tengah malam yang mencekam.

Posting Komentar untuk "Kisah Seorang Prajurit Kopassus Yang Mengalahkan Delapan Preman Jalan"