Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Mengenang J.E. Sahetapy: Sang "Pendekar" Hukum yang Tak Gentar Membela Rakyat Kecil


Dunia hukum Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya saat Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy, S.H., M.A., atau yang lebih akrab disapa J.E. Sahetapy, berpulang pada 21 September 2021.

 Beliau bukan sekadar seorang akademisi; ia adalah simbol keberanian, integritas, dan kejujuran di tengah dinamika hukum tanah air yang sering kali bergejolak.

Dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas dan tajam, J.E. Sahetapy mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keadilan, pendidikan, dan kemanusiaan.

Masa Kecil yang Tempaan Nasionalisme

Lahir di Saparua pada 6 Juni 1932, Jacobus kecil tumbuh di bawah asuhan sang ibu yang merupakan seorang guru. Dari ibunya, ia mewarisi nilai-nilai nasionalisme yang kuat dan tekad untuk selalu berpihak pada rakyat kecil.

Perjalanan pendidikannya tidaklah mudah. Gangguan dari pendudukan Jepang hingga gejolak politik Republik Maluku Selatan (RMS) memaksanya merantau ke Surabaya untuk menamatkan SMA. 

Kota Pahlawan inilah yang kemudian menjadi saksi bisu transformasinya menjadi seorang begawan hukum internasional.

Akademisi yang Teruji Fitnah

J.E. Sahetapy adalah sosok intelektual yang kenyang akan ujian. Sekembalinya menimba ilmu di Amerika Serikat, ia sempat dihantam tuduhan keji sebagai mata-mata asing oleh kelompok kiri, yang membuatnya dilarang mengajar untuk sementara waktu.

Namun, badai fitnah tersebut justru memperkuat mentalnya. Pada tahun 1979, ia dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga. 

Disertasinya yang fenomenal mengenai "Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana" hingga kini masih menjadi referensi penting dalam studi kriminologi di Indonesia.

Bapak Pendidikan dan Pendiri UK Petra

Kontribusinya di dunia pendidikan sangat luar biasa. Selain sebagai Guru Besar di Unair, beliau adalah salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya pada tahun 1963.

Dedikasinya terhadap institusi ini sangat panjang; mulai dari menjabat sebagai Rektor (1966-1969) hingga menjadi Ketua Dewan Pengurus Yayasan selama puluhan tahun (1986-2018).

 Baginya, pendidikan adalah senjata utama untuk mencerdaskan bangsa dan melawan ketidakadilan.

Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik

Semangat reformasi membawa Sahetapy terjun ke dunia politik praktis melalui PDI Perjuangan. Sebagai anggota DPR/MPR RI, ia dikenal sebagai sosok yang sangat vokal, terutama dalam proses amandemen UUD 1945.

Kepercayaan negara terhadapnya pun sangat besar. Beliau pernah menjabat sebagai:

Ketua Komisi Hukum Nasional (KHN) RI sejak tahun 2000.

Ketua Forum Pengkajian HAM dan Demokrasi Indonesia.

Asisten Gubernur Jawa Timur di era Mohammad Noer.

Warisan Integritas

Hingga akhir hayatnya, J.E. Sahetapy tetap konsisten pada prinsipnya. Baginya, hukum bukan sekadar deretan pasal, melainkan alat untuk mencari kebenaran. Ia meninggalkan warisan berupa keberanian untuk berkata jujur meskipun itu pahit.

Kini, sang pendekar hukum telah tiada, namun pemikiran dan semangatnya akan terus hidup di dalam dada setiap pejuang keadilan di Indonesia.

Sumber: Wikipedia

Posting Komentar untuk "Mengenang J.E. Sahetapy: Sang "Pendekar" Hukum yang Tak Gentar Membela Rakyat Kecil"