Kritik tajam terhadap kondisi militer Israel kembali mencuat setelah Kolonel cadangan Hanoch Dauba mengungkap situasi pasukan Israel di Lebanon selatan yang disebut berada dalam kondisi kelelahan dan kebingungan berkepanjangan akibat operasi yang dilakukan Hzbl.
Dauba menyebut realitas di lapangan saat ini menyerupai situasi sebelum penarikan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000.
Yakni ketika pasukan Israel menjadi sasaran empuk dalam konflik berkepanjangan.
“Realitas ini mengingatkan kita pada sabuk keamanan di tahun 1990-an.
Ini bukan gambaran kemenangan, melainkan bukti erosi, stagnasi, dan kesenjangan yang dalam antara deklarasi kepemimpinan dan realitas operasional,” ujar Dauba, mengutip Al Mayadeen, Kamis (21/5/2026).
Ia juga menyoroti ketergantungan militer Israel terhadap operasi penghancuran rumah dan pembersihan wilayah setelah dua setengah tahun pertempuran di Gaza dan Lebanon.
Menurutnya, strategi tersebut mencerminkan aib profesional dan kelembagaan dalam tubuh militer Israel.
Selain mengkritik strategi perang, Dauba mengungkap adanya 'iklim beracun' di internal militer Israel.
Ia mengatakan pertanyaan profesional dari para perwira sering dianggap sebagai bentuk kelemahan, sementara kehati-hatian operasional dicap sebagai kurangnya semangat ofensif.
Dauba menilai ketiadaan tujuan politik dan militer yang jelas telah membuat pasukan di lapangan hanya menjadi bahan bakar bagi perang yang dianggap stagnan.
Ia juga menyebut kritik terhadap efektivitas operasi militer jarang muncul di media Israel karena militer masih diselimuti 'aura kesucian' meski menghadapi berbagai kegagalan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan paling terbuka dari kalangan militer Israel mengenai tekanan dan kesulitan yang dihadapi pasukan mereka dalam konflik berkepanjangan di Gaza dan Lebanon selatan.
Drone Hzbl Bikin Israel Kesulitan
Pasukan Israel dilaporkan menghadapi kesulitan besar dalam melancarkan operasi militer di Lebanon Selatan akibat ancaman drone Hzbl.
Media penyiaran Israel, KAN, menyebut penggunaan drone peledak oleh kelompok Perlawanan Lebanon telah berdampak signifikan terhadap kebebasan operasi militer Israel di wilayah tersebut.
Dalam diskusi dan evaluasi internal militer Israel, terungkap bahwa serangan drone Hzbl menghambat hampir 70 persen operasi serangan Israel di Lebanon Selatan.
Ancaman tersebut bahkan disebut memaksa pasukan Israel menunda hingga membatalkan sejumlah operasi ofensif.
KAN juga melaporkan kemampuan pertahanan Israel dalam menghadapi drone masih dinilai belum memadai.
Data yang dibahas dalam evaluasi militer disebut jauh dari positif.
Terutama terkait penyediaan sistem dan sarana untuk mendeteksi serta mencegat drone peledak, mengutip Al Mayadeen, Selasa (19/5/2026).
Selain itu, laporan tersebut menyebut pasukan Israel hampir setiap hari mengalami korban tewas maupun luka-luka akibat serangan drone eksplosif yang menargetkan posisi mereka di Lebanon Selatan.
Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya penggunaan drone pandangan orang pertama (FPV) dan amunisi berkeliaran oleh Hzbl di front utara.
Para pejabat Israel sebelumnya juga berulang kali mengakui kesulitan dalam menghadapi jenis serangan tersebut.
Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, turut mengkritik keras pemerintah terkait penanganan ancaman drone.
Dalam pernyataannya yang dikutip Saluran 12 Israel, Bennett mempertanyakan lambannya respons pemerintah terhadap ancaman tersebut.
“Hampir seribu hari telah berlalu sejak perang dimulai, dan baru sekarang pemerintah ingat bahwa ada ancaman bernama drone peledak?” ujar Bennett.
Ia juga menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “luar biasa”.
Dirinya juga menuding pemerintah gagal memberikan perhatian serius terhadap perlindungan pasukan di garis depan.
(Tribunnews.com)

Posting Komentar untuk "Pasukan Israel Kebingungan Hadapi Operasi Hzbl"