Jakarta, Media Duta,- - Persaingan global dalam menguasai pelabuhan kian memanas. Dilansir dari The Economist, dari Eropa hingga Asia, negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh di jalur perdagangan laut.
Namun, di balik gelombang investasi ini, tersimpan kekhawatiran besar terhadap dominasi China dalam rantai pasok global.Foto: Shanghai, Pelabuhan Terbesar Global (47,33 juta TEUS)
Pusat Perebutan Pelabuhan Dimulai Dari Yunani
Port of Piraeus, Yunani merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Eropa. China melalui COSCO telah menjadi pemegang saham mayoritas. Pelabuhan ini menangani lebih dari 4 juta kontainer per tahun.
Namun, dominasi tersebut tidak dibiarkan tanpa perlawanan. Amerika Serikat mendukung pengembangan pelabuhan di Elefsina, sementara investor Rusia dan China masuk ke Port of Thessaloniki. Di sisi lain, NATO membangun pusat logistik di Port of Alexandroupolis.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Yunani. Dari Panama Canal hingga Asia Tenggara, pelabuhan menjadi arena baru perebutan pengaruh geopolitik.
Kenapa Pelabuhan Jadi Rebutan?
Terdapat beberapa alasan, pelabuhan dijadikan rebutan oleh negara-negara besar, yaitu:
Pertama, sekitar 80% perdagangan dunia berlangsung melalui jalur laut. Ketergantungan ini membuat pelabuhan dan jalur sempit seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka menjadi sangat strategis.
Kedua, krisis global mulai dari pandemi hingga konflik energi, menunjukkan betapa rentannya sistem perdagangan dunia. Negara-negara kini berupaya mengurangi ketergantungan pada titik-titik kritis tersebut, baik untuk alasan ekonomi maupun geopolitik.
Foto: Economist
Grafik di atas menunjukkan biaya pembangunan pelabuhan yang terus meningkat, mencerminkan lonjakan investasi global di sektor logistik.
Mengutip dari The Economist, PwC menyebutkan bahwa, total investasi infrastruktur pelabuhan diproyeksikan mencapai US$90 miliar per tahun pada 2035.
China Mendominasi Jaringan di Pelabuhan Global
China kini menjadi pemain paling agresif dalam ekspansi pelabuhan global. Perusahaan China memiliki atau berinvestasi di setidaknya 129 pelabuhan di luar negeri, dengan nilai investasi lebih dari US$80 miliar.
Banyak dari pelabuhan tersebut berada di titik strategis seperti Selat Malaka, Selat Hormuz, dan Terusan Suez, yang menjadi jalur vital perdagangan dunia.
Menurut MERICS, sebuah lembaga think-tank di Berlin, kehadiran operator China di pelabuhan dapat meningkatkan perdagangan dengan China lebih dari 20%. Namun, ekspor ke negara lain justru bisa turun hingga 19%.
Hal ini menunjukkan bahwa kontrol pelabuhan bukan sekadar infrastruktur, tetapi alat untuk mengarahkan arus perdagangan.(*)
Port of Piraeus, Yunani merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Eropa. China melalui COSCO telah menjadi pemegang saham mayoritas. Pelabuhan ini menangani lebih dari 4 juta kontainer per tahun.
Namun, dominasi tersebut tidak dibiarkan tanpa perlawanan. Amerika Serikat mendukung pengembangan pelabuhan di Elefsina, sementara investor Rusia dan China masuk ke Port of Thessaloniki. Di sisi lain, NATO membangun pusat logistik di Port of Alexandroupolis.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Yunani. Dari Panama Canal hingga Asia Tenggara, pelabuhan menjadi arena baru perebutan pengaruh geopolitik.
Kenapa Pelabuhan Jadi Rebutan?
Terdapat beberapa alasan, pelabuhan dijadikan rebutan oleh negara-negara besar, yaitu:
Pertama, sekitar 80% perdagangan dunia berlangsung melalui jalur laut. Ketergantungan ini membuat pelabuhan dan jalur sempit seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka menjadi sangat strategis.
Kedua, krisis global mulai dari pandemi hingga konflik energi, menunjukkan betapa rentannya sistem perdagangan dunia. Negara-negara kini berupaya mengurangi ketergantungan pada titik-titik kritis tersebut, baik untuk alasan ekonomi maupun geopolitik.
Foto: Economist
Grafik di atas menunjukkan biaya pembangunan pelabuhan yang terus meningkat, mencerminkan lonjakan investasi global di sektor logistik.
Mengutip dari The Economist, PwC menyebutkan bahwa, total investasi infrastruktur pelabuhan diproyeksikan mencapai US$90 miliar per tahun pada 2035.
China Mendominasi Jaringan di Pelabuhan Global
China kini menjadi pemain paling agresif dalam ekspansi pelabuhan global. Perusahaan China memiliki atau berinvestasi di setidaknya 129 pelabuhan di luar negeri, dengan nilai investasi lebih dari US$80 miliar.
Banyak dari pelabuhan tersebut berada di titik strategis seperti Selat Malaka, Selat Hormuz, dan Terusan Suez, yang menjadi jalur vital perdagangan dunia.
Menurut MERICS, sebuah lembaga think-tank di Berlin, kehadiran operator China di pelabuhan dapat meningkatkan perdagangan dengan China lebih dari 20%. Namun, ekspor ke negara lain justru bisa turun hingga 19%.
Hal ini menunjukkan bahwa kontrol pelabuhan bukan sekadar infrastruktur, tetapi alat untuk mengarahkan arus perdagangan.(*)

Posting Komentar untuk "Perebutan Pelabuhan Global Kian Sengit, Dunia Khawatir Dominasi China"