Ruang penyidikan mendadak riuh dengan suara isak tangis. Para pelaku pembunvhan sadis terhadap Ibu Dumaris tak lagi menunjukkan kegarangan mereka saat melakukan aksi keji. Kini, bayang-bayang hukuman mati membuat nyali mereka menciut di hadapan penyidik.
Mantan Menantu Memelas: "Beri Kami Kesempatan"
Mantan menantu k0rban, yang diduga menjadi dalang di balik tragedi ini, tampak tak henti-hentinya menundukkan kepala. Bersama kekasih gelap dan kaki tangannya, mereka memohon belas kasihan agar terhindar dari vonis maksimal.
"Kami gelap mata, kami khilaf. Tolong jangan hukum mati kami. Kami ingin punya kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri," ratap salah satu tersangka saat pemeriksaan.
Dalam upayanya melunakkan hati penegak hukum, para pelaku mengutarakan beberapa alasan:
Mengaku siap menjalani masa pembinaan dan kembali menjadi masyarakat yang berguna.
Merasa hancur jika masa produktif mereka harus berakhir di ujung laras senapan atau mendekam selamanya di bui.
Menyebut masih memiliki keluarga yang membutuhkan kehadiran mereka secara finansial maupun emosional.
Nyawa Dibayar Nyawa
Meski ruang pemeriksaan dipenuhi drama air mata, pihak keluarga korban tetap berdiri kokoh pada pendirian mereka.
Bagi keluarga, tindakan merampok dan menghabisi ny*wa seorang lansia secara terencana adalah perbuatan yang tidak termaafkan.
Nasib para pelaku kini sepenuhnya bergantung pada fakta persidangan. Apakah "air mata di balik borgol" ini murni bentuk penyesalan atau sekadar upaya menghindari hukuman berat.
Publik kini menanti ketegasan palu hakim dalam memberikan keadilan bagi almarhumah Ibu Dumaris.

Posting Komentar untuk "Terancam Regu Tembak, Komplotan Pembunih Ibu Dumaris Menangis Histeris"