Jakarta Media Duta,- Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, memberikan respons resmi terkait insiden kericuhan yang mewarnai peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh (MoU Helsinki) di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Sebagai salah satu tokoh kunci perajut perdamaian Aceh pada tahun 2005 silam, Jusuf Kalla menegaskan bahwa aksi pengibaran bendera Bulan Bintang dan bentrokan dengan aparat tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah pusat.
Dirinya menilai peristiwa itu murni manifestasi dari adanya dinamika ketidakpuasan internal di antara pimpinan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pria yang akrab disapa JK tersebut menyoroti bahwa situasi di lapangan sempat kehilangan kendali akibat absennya sejumlah figur pimpinan paling berpengaruh di Aceh saat acara berlangsung.
Pada waktu kejadian, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) diketahui tengah menjalani perawatan medis di Kuala Lumpur, Malaysia, sementara Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haythar juga sedang berobat di Penang.
Ketiadaan para tokoh sentral ini dinilai membuat massa aksi di akar rumput kehilangan arah dan tidak ada instrumen persuasif internal yang mampu meredam emosi kelompok tersebut sejak awal zikir dimulai.
Melalui keterangannya, Jusuf Kalla mengimbau seluruh elemen masyarakat di Serambi Mekah untuk tetap menjaga komitmen perdamaian yang telah dirawat selama lebih dari dua dekade.
JK mengingatkan bahwa status otonomi khusus serta kucuran dana rehabilitasi daerah yang diterima Aceh saat ini merupakan buah manis dari perdamaian yang harus disyukuri dan dipertahankan.
Dirinya meminta agar dinamika politik lokal tidak mencederai pencapaian kemajuan sosial, sektor pendidikan, serta kebebasan yang kini telah dinikmati oleh generasi muda Aceh.
Sumber Berita : Kompas.com. Atlas Militer
#JusufKalla #HariDamaiAceh #MoUHelsinki #PolitikAceh #dunia

Posting Komentar untuk "Jusuf Kalla Tegaskan Kericuhan Hari Damai Aceh Murni Dinamika Internal Mantan GAM"