Membahas atau mengulas tokoh berlatar belakang militer ini memang menarik. Apalagi, jika membahas tokoh militer dari masa lalu, entah itu yang terlibat dalam perang kemerdekaan, atau generasi berikutnya setelah itu.
Kali ini, kita akan membahas seorang tokoh militer asal Malang Jawa Timur. Siapa dia? Dia adalah Waris. Pendek saja namanya. Tapi jejak pengabdiannya sebagai seorang prajurit terentang panjang.
Waris lahir di Malang Jawa Timur pada 12 Desember 1957. Selepas SMA, ia mendaftar ke Akademi ini dan diterima. Setelah sekian lama menempuh pendidikan militer di Akmil Magelang, Waris lulus pada tahun 1981.Setelah lulus dari Akmil, Waris mulai menapaki jejak pengabdiannya di TNI. Waris sendiri adalah perwira dari kecabangan infanteri. Karirnya cukup mengkilap.
Saat menyandang pangkat Mayor, Waris tercatat memegang jabatan Wadanyonif 507/Sikatan. Setelah itu dimutasi menjadi Kasdim 0809 yang berkedudukan di Kediri Jawa Timur.
Pangkat Letnan Kolonel pun diraihnya saat Waris dipercaya memegang jabatan Danyonif 315/Garuda. Waris bertugas sebagai Danyonif 315 dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1996.
Selesai bertugas di Yonif 315, Waris ditarik ke Paspampres. Jabatan
Dansatprot Paspampres dipercayakan kepadanya. Setelah itu dapat penugasan baru masih di Paspampres. Waris ditunjuk sebagai Dansatpam Grup Paspampres.
Baru kemudian dipromosikan sebagai Danyon Pam Grup B Paspampres.
Selesai bertugas di Paspampres, Waris ditugaskan ke Jombang untuk memegang jabatan Dandim 0814/Jombang.
Tidak lama setelah itu, dia kembali ditarik ke Paspampres untuk memegang posisi Wadan Grup B Paspampres. Kemudian dimutasi menjadi Wadan Grup A Paspampres.
Pangkat Kolonel diraih Waris saat ia diangkat sebagai Danbrigif 13/Galuh pada tahun 2001. Pada 2003, Waris menyelesaikan tugasnya sebagai Danbrigif 13/Galuh.
Tugas baru menantinya. Waris diangkat sebagai Danmensis Secapaad. Setelah itu dikirim ke Aceh untuk mengisi posisi Asops Kasdam Iskandar Muda.
Lantas digeser ke Kodam Sriwijaya untuk memegang jabatan Danrindam II/Sriwijaya.
Usai bertugas di Kodam Sriwijaya, Waris ditarik ke Kostrad. Jabatan Inspektur Kostrad dipercayakan kepadanya.
Karirnya di Kostrad terus merangkak naik. Dari Inspektur Kostrad, Waris dipromosikan menjadi Kasdivif 1/Kostrad.
Pangkatnya pun ikut naik. Satu bintang bertengger di pundaknya alias Waris resmi menjadi Brigadir Jenderal atau jenderal bintang satu.
Selesai bertugas di Kostrad, Waris diangkat menjadi Staf Ahli Kasad. Pada tahun 2010, Waris ditugaskan ke Kodam Jaya memegang jabatan
Kasdam Jayakarta.
Hanya sebentar memangku jabatan Kasdam Jaya, Waris kembali ditarik ke Paspampres. Jabatan orang nomor satu di Paspampres atau Danpaspampres dipercayakan kepadanya. Waris menjadi Danpaspampres sampai tahun 2011.
Pada tahun itu juga, penugasan baru menantinya. Waris kembali ke Kodam Jaya. Ia diangkat sebagai
Pangdam Jayakarta atau Pangdam Jaya. Jabatan orang nomor satu di Kodam Jaya dipegang Waris sampai tahun 2012.
Setelah menyelesaikan tugasnya di Kodam Jaya sebagai Pangdam Jaya, Waris mendapat promosi jabatan.
Ia dipromosikan untuk memegang jabatan Sekjen Wantannas. Pangkatnya pun naik dari Mayjen menjadi Letnan Jenderal.
Pada tahun 2015, Waris menjadi Pati Mabes TNI dalam rangka persiapan pensiun.
Sang jenderal asal Malang itu pensiun dari TNI dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal atau jenderal bintang tiga.
Begitulah jejak karir Letjen Waris, perwira Baret Hijau asal Malang Jawa Timur.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah referensi kalian. Jika ada koreksi atau tambahan informasi, silahkan tulis di kolom komentar.

Posting Komentar untuk "Prajurit Malang Yang Jadi Perisai Presiden."