Media Duta,- Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei mengonfirmasi, Teheran telah menyampaikan serangkaian syarat kepada Amerika Serikat (AS) melalui mediator Qatar untuk mengakhiri perang secara menyeluruh.
Tiga tuntutan utama yang diajukan mencakup penghentian seluruh aksi militer di semua lini, pencairan aset dana Iran yang dibekukan, serta pengakhiran blokade angkatan laut AS.
Meski demikian, Teheran menegaskan tetap menegaskan pergeseran strategi militer dengan membidik armada kapal perang dan pangkalan AS di kawasan Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Arab.
"Syarat kami adalah diakhirinya perang di semua lini, pencairan dana kami yang dibekukan, dan diakhirinya blokade angkatan laut," ujarnya, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (19/9/2026).
"Menerima kondisi ini adalah demi kepentingan Washington. Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun, dan kami siap untuk perang yang menentukan," sambungnya.
"Pesan ganda" Iran
Sikap Iran dinilai para pengamat sebagai kombinasi strategi "pesan ganda".
Artinya, Iran membuka pintu kompromi diplomasi sekaligus memperlihatkan kesiapan konfrontasi militer habis-habisan.
Uji tembak rudal anti-kapal multi-hulu ledak baru-baru ini di dekat armada kapal induk AS menjadi sinyal bahwa Teheran siap menghadapi skenario konflik terbuka yang lebih intensif.
Mantan Direktur Urusan Semenanjung Arab di Pentagon, David Des Roches menilai, AS kemungkinan besar melihat paket persyaratan tersebut lebih menyerupai tuntutan penyerahan diri dibanding tawaran negosiasi seimbang.
Kendati demikian, Des Roches mencatat adanya pergeseran posisi Teheran yang mulai melunakkan sikap dengan mencabut tuntutan ganti rugi perang.
Di sisi lain, upaya mediasi yang diusung Qatar dan Pakistan diharapkan mampu membangun kembali Nota Kesepahaman (MoU) yang sempat runtuh setelah insiden saling serang di sekitar pangkalan Bandar Abbas dan Selat Hormuz.
Rezaei menyebut kegagalan kesepakatan sebelumnya terjadi akibat tindakan sepihak Washington yang menarik diri dari komite penyelesaian sengketa bilateral.
"Di satu sisi terdapat kesiapan untuk keterlibatan diplomatik, namun di sisi lain terdapat persiapan matang menuju perang yang menentukan," kata analis geopolitik Al Jazeera, Tohid Asadi.
"Pembicaraan mediasi bersama Qatar dan Pakistan menawarkan indikasi positif, meskipun celah harapannya terbilang tipis," tambahnya.
Menjawab isu eskalasi nuklir, Rezaei menegaskan, Teheran sejauh ini masih menghormati larangan senjata nuklir dan belum memutuskan untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Namun, ia memperingatkan bahwa sanksi tambahan atau perujukan berkas nuklir ke Dewan Keamanan PBB dapat mendorong Iran mengambil keputusan sebaliknya.
Terkait keamanan maritim, Iran membantah tuduhan keterlibatan langsung dalam operasi blokade di Selat Bab al-Mandeb yang dikuasai kelompok di Yaman.
Di Selat Hormuz, Teheran menyatakan telah menyiapkan draft kesepakatan pengamanan koridor energi bersama Oman yang kini hanya tinggal menunggu konsensus dukungan dari negara-negara di kawasan. (Kompas.com/Al Jazeera)

Posting Komentar untuk "Tiba-tiba, Iran Membuka Peluang Damai dengan Mengajukan Syarat Demi Akhiri Perang"