Jakarta Media Duta,- Panggung internal Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali diguncang oleh spekulasi liar pasca-terbitnya gerbong mutasi besar-besaran di bawah nakhoda Kapolri yang baru, Jenderal Pol.
Suyudi Ario Seto. Salah satu keputusan yang paling memancing riuh perdebatan publik adalah pencopotan Komjen Pol. Karyoto dari kursi empuknya sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.
Jenderal bintang tiga yang sebelumnya digadang-gadang sebagai kandidat terkuat untuk menduduki posisi Tribrata 1 itu kini mendadak dialihkan menjadi Perwira Tinggi (Pati) tanpa jabatan operasional harian.
Pergeseran mendadak ini langsung dikaitkan oleh netizen dengan dinamika politik lokal di Jawa Barat, di mana Karyoto diketahui memiliki hubungan kekerabatan erat sebagai besan dari politisi kawakan Dedi Mulyadi (KDM).
Sebelum Kapolri baru terpilih, desas-desus di lingkaran istana sempat membocorkan adanya keraguan terhadap netralitas struktural jika Karyoto memimpin korps Bhayangkara, mengingat sang besan tengah melakukan pergerakan politik yang masif.
Asumsi yang berkembang liar di media sosial menyebutkan bahwa andai faktor kekerabatan tersebut tidak ada, jalan Karyoto menuju puncak pimpinan tertinggi kepolisian dipastikan akan mulus tanpa hambatan berarti.
Guna meredam polemik yang kian melebar, Mabes Polri melalui Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir segera meluruskan fakta administratif di balik keputusan telegram rahasia tersebut.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa mutasi terhadap Komjen Karyoto ke posisi barunya di Baharkam murni didasarkan pada aturan organisasi karena sang jenderal telah memasuki masa jelang pensiun dari dinas aktif.
Promosi jabatan yang kini diserahkan kepada Irjen Hery Heryawan ditegaskan sebagai langkah penyegaran berkala kepemimpinan, sekaligus mematahkan anggapan bahwa keputusan ini merupakan bentuk penjegalan karier akibat manuver pencitraan faksi politik tertentu di daerah.
Sumber berita : Jawapos.com / atlas militer

Posting Komentar untuk "Diisukan Gagal Jadi Kapolri Gara-gara Faktor Besan"