Aksi Heroik Arman Zebua Bertahan Hidup di Tengah Hutan saat Banjir Bandang dan Longsor di Tapanuli Tengah.
Ingat video viral sekelompok orang yang terjebak di tengah hutan itu kan? Yang “Pak Bupati bantu kami Pak Bupati”. Nah itu adalah suara Abang ini.
Hari itu, Arman Zebua sudah merasa ada yang tidak beres. Air sungai di kampungnya mulai meluap ke depan rumah warga bahkan arusnya deras dan keruh.
Arman juga melihat perbukitan di sekitar rumahnya mulai longsor sedikit demi sedikit. Dari situ Arman feeling bahwa bencana besar akan datang meskipun orang di kampungnya masih belum terlalu cemas
Arman langsung mengambil keputusan dan mengajak keluarga serta tetangga-tetangganya. Masalahnya jalan ke arah depan sudah tertutup air sungai yang meluap.
Satu-satunya pilihan adalah mengungsi ke perbukitan dan masuk ke hutan, meskipun Arman tahu perbukitan itu juga berisiko longsor.
Tapi tidak ada pilihan lain dibanding menunggu air menyapu kampung.Awalnya warga masih ragu. Takut. Bingung.
Namun Arman meyakinkan mereka dan memimpin langsung perjalanan. Total ada sekitar 50 orang yang ikut mengungsi bersamanya.
Ibu Arman, adik-adiknya, kakak iparnya, anak-anak, bayi, orang dewasa, hingga lansia semua satu rombongan.
Sekitar 10 menit setelah rombongan berjalan, titik tempat mereka sebelumnya berkumpul langsung diterjang longsor. Jika mereka tidak segera pergi, mereka kemungkinan besar akan hanyut dan tidak ada yang selamat.
Perjalanan ke hutan pun tidak mulus. Di tengah kepanikan, ibu Arman sempat terjebak lumpur setinggi dada.
Hanya kepalanya yang terlihat. Dalam kondisi kacau dan gelap, ibunya bahkan sempat berkata, “Tidak apa-apa… selamatkan saja adikmu. Tinggalkan mamak”
Namun Arman menolak. Ia tetap berusaha dan berhasil menarik ibunya keluar. Akhirnya mereka menemukan satu area hutan yang relatif datar dan bisa dijadikan tempat bertahan. Tapi keadaan tetap mencekam.
Di kanan dan kiri longsor masih terus terjadi. Di depan, air banjir bandang menutup semua jalan keluar. Saat itu Arman merasa harapan hampir habis.
Arman lalu menghubungi kakaknya yang berada di Jakarta dan mengirimkan video kondisi mereka di tengah hutan. Video itulah yang kemudian diunggah dan viral.
Malam itu menjadi malam terpanjang.
Hujan tidak berhenti, gelap gulita, kelaparan dan kedinginan. Mereka tidak membawa persiapan apa pun.
Di atas bukit, Arman hanya bisa berpegangan tangan dengan ibu dan adik-adiknya, karena saking gelapnya, wajah pun tidak terlihat meski jarak sangat dekat.
Ibunya juga sempat berkata bahwa jika memang ini sudah saatnya dipanggil Tuhan, tidak apa-apa asal mereka bersama.
Tengah malam Ibunya berbisik, “Lapar..” begitu juga dengan adiknya. Diantara mereka juga ada Kakak Ipar Arman dengan bayinya.
Besokannya ASI sang Kakak habis karena tidak makan apa pun. Untuk bertahan hidup, para pengungsi hanya bisa minum air hujan dan mengunyah patahan kayu.
Dinginnya menusuk tulang. Ibunya berkata, jika kondisi ini berlanjut, ia tidak akan kuat bertahan lebih lama karena sangat kedinginan dan kelaparan.
Arman tahu mereka tidak bisa menunggu bantuan karena memang tidak ada yang datang.
Akhirnya dia memutuskan turun sendiri ke kampung, meski risikonya besar. Arman turun dengan cara berguling-guling di lereng, tubuhnya membentur batu. Setelah itu, ia menghanyutkan diri di air banjir yang masih cukup tinggi, mempertaruhkan nyawanya.
Di sisa-sisa kampung yang masih ada, Arman menemukan sedikit makanan dan bertemu dengan temannya. Mereka menemukan tali, yang kemudian digunakan untuk menyalurkan makanan ke para pengungsi di atas bukit.
Tak berhenti di situ, Arman juga membuat jalur darurat agar orang tua dan warga lain bisa turun. Syukurnya, saat itu banjir bandang di bawah sudah mulai surut.
Setelah sekitar lima jam bekerja, jalur darurat itu akhirnya bisa dilewati, dan seluruh rombongan pengungsi berhasil turun dengan selamat.
Saat semuanya berakhir mereka tetap dihadapkan ke kenyataan bahwa ratusan rumah sudah habis, termasuk rumah Arman dan keluarganya.
Bahkan tanah tempat rumah itu berdiri sudah berubah menjadi aliran sungai. Tidak ada yang tersisa.
Namun satu hal yang paling penting.. mereka selamat. Salut dengan inisiatif dan keberanian Arman Debua ๐ฅน
Ditulis oleh Faradila Novita Anasri
Sumber: wawancara Arman Debua dengan BBC News

Posting Komentar untuk "Kisah Arman Zebu Bertahan Hidup di Tengah Hutan Saat Banjir Bandang dan Lokasi"