Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kulkas Raksasa dan Sang Penjaga Bintang


I. INTRO: HIPOKRISI NASIONAL

Gue tuh kadang bingung sama Indonesia. Negara ini punya kebiasaan unik: kalau ada masalah gede, semua orang mendadak buta. Kita kayak anak kecil yang nutup mata sambil teriak, “Aku hilang! Aku hilang!”, padahal badannya segede gaban.

Dan Morowali—yang katanya jantung ekonomi baru itu—adalah "kulkas" paling gede yang kita pura-pura nggak lihat.

Ada asap tebal, ada kecelakaan kerja yang angkanya kayak undian lotre, ada ribuan TKA seliweran, ada bandara misterius tanpa imigrasi. Tapi anehnya, Jakarta sunyi. Pejabat daerah diam. Aparat kicep.

Kenapa?

Gue mau ajak lo buka mata hari ini. Karena di balik tembok tebal Morowali, ada satu Bintang yang sinarnya gelap. Dan bintang itu dijaga oleh sosok yang bikin hukum negara ini sungkem.

II. THE REVEAL: SANG PENJAGA

Siapa penjaganya?

Namanya Sintong Panjaitan.

Di atas kertas, jabatannya cuma Komisaris Utama. Tapi jangan salah sangka. Di Indonesia, jabatan "Mantan Danjen Kopassus" itu bukan sekadar masa lalu. Itu kasta.

Lo pikir dia cuma datang rapat tiga bulan sekali? Salah besar.

Sintong itu bukan "ex". Dia adalah legitimasi. Dia adalah sejarah hidup yang pernah memimpin operasi Woyla—salah satu aksi pembebasan sandera paling gila di muka bumi. Perwira aktif pun kalau ketemu beliau, refleks berdiri tegak.

Dan sekarang, sosok dengan reputasi mengerikan ini duduk menjaga pintu gerbang Bintang Delapan Group, pemegang saham lokal yang membukakan jalan bagi raksasa Tiongkok, Tsingshan, untuk masuk ke IMIP.

III. ANALISIS: KENAPA DIA DIBUTUHKAN?

Kenapa proyek bisnis butuh jenderal tempur?

Jawabannya sederhana: Karena investor asing (Tsingshan) butuh penerjemah.

Bukan penerjemah bahasa Mandarin, tapi penerjemah Bahasa Kekuasaan.

Orang asing nggak ngerti cara main di Indonesia. Mereka cuma tahu: ada masalah, bayar.

Tapi Indonesia itu rimba. Di sini, pertanyaan "Siapa beking lo?" jauh lebih sakti daripada "Mana dokumen lo?".

Supaya proyek triliunan ini aman dari:

 * Preman lokal

 * Konflik lahan

 * Tekanan LSM

 * Dan birokrasi yang ribet...

Mereka butuh wajah lokal yang kalau namanya disebut, ruangan langsung hening. Mereka butuh Sintong.

Kehadirannya adalah pesan non-verbal: "Jangan macam-macam, atau lo berhadapan sama gue."

IV. FAKTA: NEGARA DALAM NEGARA

Itulah kenapa IMIP bisa congkak banget.

Lo perhatiin polanya:

 * Bandara internasional beroperasi tanpa imigrasi resmi? Lewat.

 * Ribuan orang asing keluar masuk kayak di mall? Lewat.

 * Kecelakaan kerja yang menewaskan puluhan orang? Sunyi.

 * Pejabat mau sidak? Mikir dua kali.

Kenapa pejabat sipil takut? Karena pejabat sipil itu jabatannya cuma 5 tahun. Jenderal legendaris? Jaringannya hidup 40 tahun.

Pejabat takut dipecat. Sintong? Dia nggak bisa dimutasi, nggak bisa dikasih SP3. Dia hidup di luar struktur negara, tapi ada di puncak struktur kekuasaan.

Ditambah lagi fakta pahit ini: Koneksi.

Sintong adalah sepupu/kerabat dekat Luhut Binsar Pandjaitan. Dua mantan Danjen. Dua arsitek Detasemen 81.

Siapa pejabat daerah yang berani cari masalah sama duo ini? Nggak ada.

V. KESIMPULAN: BENTENG YANG TAK TERSENTUH

Jadi, berhentilah berharap hukum akan tegak lurus di sana.

Kalau IMIP itu adalah kapal raksasa yang menerjang aturan, maka Sintong adalah jangkarnya. Jangkar yang bikin kapal itu nggak goyah dihantam ombak kritik.

IMIP itu bukan sekadar kawasan industri.

IMIP itu benteng.

Di luarnya ada rakyat, ada hukum, ada teriakan protes.

Tapi di dalamnya, cuma ada kepentingan global dan jaringan militer tua yang menjaga pintu.

Gue nggak bilang dia jahat. Gue nggak bilang dia kriminal.

Gue cuma bilang: Dia adalah Penjaga.

Dan selama sang penjaga masih berdiri di sana, "kulkas raksasa" itu akan tetap ada, dan kita semua akan tetap dipaksa pura-pura nggak melihatnya.

Mau bongkar IMIP?

Lo harus tahu dulu siapa yang pegang kuncinya.

Sekarang lo tahu.

Disadur dari tulisan Balqis Humairah

Posting Komentar untuk "Kulkas Raksasa dan Sang Penjaga Bintang"