Pesan terakhir dari kang Emil.
Sebuah Renungan di Penghujung Desember
Bandung selalu punya cara mengajarkan arti kehilangan dan ketulusan.
Teteh Atalia, belahan jiwa yang paling setia…
Ada saat di mana langkah terasa lebih pelan dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena hati sedang belajar menerima.
Di tengah sepi, baru kusadari… bukan jabatan, bukan gemerlap acara, dan bukan sorak tepuk tangan yang membuat seseorang berdiri tegak.Melainkan rumah.
Keluarga.
Dan seseorang yang selalu mendoakan dalam diam.
Jika waktu bisa diputar, mungkin kita hanya ingin lebih sering berkata, “Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Karena pada akhirnya, hidup hanyalah soal menghargai kehadiran — sebelum semuanya berubah menjadi kenangan.(*)

Posting Komentar untuk "Nasi Telah Menjadi Bubur — Kadang, Kita Hanya Bisa Belajar Merawat Apa Yang Tersisa."