Gunung Bulusaraung mendadak menjadi pusat perhatian nasional ketika serpihan pesawat ATR 42-500 ditemukan di lerengnya.
Gunung yang biasanya sunyi itu berubah menjadi medan operasi kemanusiaan, mempertemukan alam ekstrem dengan upaya penyelamatan yang penuh risiko.
Dari kejauhan, Bulusaraung tampak gagah. Namun di balik siluetnya, tersembunyi topografi yang tidak ramah bagi siapa pun yang datang tanpa persiapan matang.
Secara geografis, Gunung Bulusaraung berada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, berbatasan langsung dengan Maros, sekitar 50 kilometer dari Kota Makassar.
Ia merupakan bagian dari Pegunungan Maros–Pangkep, gugusan pegunungan karst dengan kontur curam dan lembah sempit.
Dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut, lerengnya dipenuhi tebing terjal, punggungan tajam, serta jalur alami yang nyaris tak terjamah.
Karakter karst Bulusaraung membentuk medan yang keras sekaligus rapuh. Batuan kapur yang dipahat waktu selama jutaan tahun menciptakan gua, jurang, dan rongga bawah tanah yang sulit diprediksi.
Ditambah tutupan hutan pegunungan yang lebat, jarak pandang menjadi terbatas, memaksa tim SAR menyusuri medan secara manual.
Kombinasi inilah yang membuat proses evakuasi berlangsung lambat, penuh kehati-hatian, dan berisiko tinggi, seolah mengingatkan bahwa di Bulusaraung, alam selalu memegang kendali.

Posting Komentar untuk " "