Di tengah krisis politik tahun 1998, sebuah episode menegangkan terjadi di lingkungan Istana sebuah momen yang memperlihatkan dinamika kekuasaan, loyalitas, dan ketegasan para pemimpin militer Republik Indonesia.
Semua berawal ketika Sintong Panjaitan berbicara dengan Wiranto. Dengan nada agak tersinggung, ia mendesak, “Pak Wiranto, bisa nggak Prabowo diganti?”
Wiranto menjawab singkat dan tegas, “Kena apa tidak?”
Keputusan itu akhirnya diambil. Presiden B.J. Habibie resmi mencopot Prabowo Subianto dari jabatan Pangkostrad dan menunjuk Letjen Johny Lumintang sebagai pengganti sementara.
Namun, setelah keputusandiambil, Habibie justru dihantui kekhawatiran. Ia mempertanyakan bagaimana reaksi Presiden Soeharto terhadap pencopotan menantunya itu.
Dalam bukunya Detik-detik yang Menentukan, Habibie menulis
> “Bagaimana tanggapan Pak Harto? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk menemui saya?”
Sementara itu, Prabowo baru mengetahui dirinya dicopot saat berkunjung ke kantor Fanny Habibie di Batam pada 22 Mei sekitar pukul 13.30. Hanya 1,5 jam kemudian, ia meluncur ke Istana bersama 12 pengawal dalam tiga Land Rover, menandai ketidaksabaran sekaligus kegelisahan.
Sesampainya di Istana, ia langsung bertanya tajam kepada perwira Paspampres, “Ada Pak Habibie nggak?”
Perwira itu sempat terdiam, hingga seorang lainnya memberanikan diri menjawab, “Ada, Pak.”
Tanpa menunggu prosedur, Prabowo langsung masuk naik lift ke lantai 4 padahal aturan mewajibkan setiap tamu presiden menunggu di lantai dasar hingga dinyatakan aman.
Sintong Panjaitan, yang mendapat laporan bahwa Prabowo naik tanpa izin, langsung memerintahkan:
“Jangan masukkan dulu sebelum diizinkan.”
Ia lalu menunjuk seorang pengawal berpakaian preman.
“Kau kenal Prabowo?”
“Siap. Kenal, Jenderal.”
“Ambil senjatanya. Dengan sopan, hormat, tapi ambil.”
Di saat yang sama, Sintong telah menyiagakan beberapa pengawal bersenjata lengkap di lantai 4, bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika Prabowo menolak mengikuti prosedur atau enggan menyerahkan senjata.
Adegan itu menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah menjelang jatuhnya Orde Baru. Bukan sekadar konflik jabatan, tetapi juga pertarungan wibawa, disiplin, dan keamanan di tengah turbulensi politik yang mengguncang negeri.
Sumber : koransulindo.com

Posting Komentar untuk "Detik-Detik Prabowo Dicopot dari Pangkostrad"