“Bu… aku nyasar tekan Gunung Slamet…”
Satu kalimat pendek itu masih tersimpan rapi di ponsel Utari. Tidak pernah dihapus. Tidak pernah dilepaskan.
Karena di sanalah terakhir kali ia “bertemu” dengan putra bungsunya, Syafiq Ridhan Ali Razan — anak yang ia didik dengan doa, dan ia lepas dengan keyakinan.
Syafiq memang bilang ingin mendaki Gunung Sumbing. Izin sudah diberikan. Hati ibu masih bisa tenang.
Namun ternyata, langkah kakinya memilih arah lain. Bersama sahabatnya, Himawan, ia menuju Gunung Slamet. Rencana mereka sederhana — terlalu sederhana mungkin — naik dan turun di hari yang sama.
Tidak ada tenda. Tidak ada matras. Tidak ada bayangan akan malam panjang di gunung.
Hanya semangat anak muda yang percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Mereka berangkat Jumat, 27 Desember 2025. Rencananya, Minggu sore sudah ada di rumah.
Namun Minggu itu berlalu begitu saja… Tanpa kabar. Tanpa suara. Tanpa tanda.
Telepon Syafiq mati. Seperti lampu yang dipadamkan tiba-tiba.
Dhani Rusman, ayahnya, mulai mencari. Satu per satu basecamp ia hubungi, dengan suara yang berusaha tetap tenang meski hatinya sudah bergetar:
“Apakah ada yang bernama Syafiq…?”
Bambangan — tidak ada. Basecamp lain — juga tidak ada.
Sampai akhirnya sebuah nama terdengar: Dipajaya, Pemalang.
“Sepertinya dia naik dari sini, Pak. Mungkin ikut bermalam sama rombongan lain,” ujar petugas.
Kalimat itu menenangkan. Namun sekaligus menorehkan luka. Karena Dhani tahu, anaknya tak membawa apa pun untuk bermalam.
Senin, 29 Desember 2025, Dhani memutuskan datang sendiri ke posko. Kakinya mungkin masih kuat. Namun hatinya sudah setengah runtuh.
Sore itu tim rescue mulai bergerak. Menyusuri jalur dingin yang dipenuhi kabut tipis. Membelah hutan. Memanggil nama yang sama berulang-ulang.
Himawan ditemukan di Pos 9. Lemas. Kesakitan. Namun selamat.
Lalu… di mana Syafiq?
Ternyata, sebelum itu, Syafiq turun lebih dulu. Ia tidak sanggup meninggalkan sahabatnya sendirian. Ia ingin mencari bantuan.
Dan sejak langkah itu ia ambil… jejaknya menghilang.
Dhani pun naik gunung. Bukan sebagai pendaki. Bukan sebagai wisatawan.
Tetapi sebagai ayah yang sedang mencari separuh hidupnya.
Di tengah kabut yang turun perlahan, ia memanggil:
“Ali… pulang ya, Nak… Bapak di sini…”
Angin menjawab dengan dingin. Pohon bergoyang pelan. Namun gunung tetap diam.
Seakan menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan.
Hari berganti hari. Doa tak pernah berhenti. Harapan tak pernah benar-benar padam, meski kadang terasa begitu rapuh.
Dan satu pesan itu… masih tersimpan.
“Bu, aku nyasar tekan Gunung Slamet…”
Kadang, Utari masih membukanya. Bukan untuk membalas. Bukan untuk mengeluh.
Hanya untuk memastikan bahwa pesan itu nyata. Bahwa anaknya pernah berpamitan. Dengan cara yang begitu sederhana.
Malam-malamnya kini penuh doa. Bukan doa panjang yang rumit. Hanya satu kalimat lirih yang selalu sama:
“Ya Allah… jaga Syafiq. Dimanapun ia berada…”
Karena cinta seorang ibu dan ayah… tidak pernah berhenti di batas waktu. Ia tidak menuntut kepastian. Ia hanya menunggu.
Dengan sabar. Dengan air mata yang sudah habis dihitung. Dengan hati yang masih percaya…
bahwa setiap anak, pada akhirnya, selalu mencari jalan pulang.

Posting Komentar untuk "Syafiq Ridhan Ali Razan Anak Yang Dididik Dengan Doa, dan Ia Lepas Dengan Keyakinan"