Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Epik Perseteruan Kolonel M. Jusuf dan Andi Selle di Pinrang, Tahun1964


Kolonel M. Jusuf — Sang Pangdam yang Datang Membawa Damai.

Mentari sore 5 April 1964 menggantung merah saga di langit Pinrang. 

Debu beterbangan ketika iring-iringan mobil Pangdam Hasanuddin, M. Jusuf, memasuki kota kecil itu.

Ia datang bukan sebagai penyerbu. Ia datang sebagai perunding.

Sebagai putra Bugis yang memahami adat dan harga diri, ia ingin membujuk seorang sahabat lama—seorang bangsawan berpengaruh—agar kembali setia kepada Republik dan kepada Soekarno.

Di sebuah gedung Bulog di Desa Leppangeng, dua tokoh besar Bugis duduk berhadapan.

Dua darah bangsawan.

Dua pemimpin kharismatik.

Dua jalan yang berlawanan.

Jusuf—tegas, nasionalis, dan percaya bahwa negara harus berdiri di atas hukum.

Di hadapannya duduk Andi Selle—penguasa Mandar yang kaya raya, disegani, dan terseret dalam pusaran bisnis gelap yang bersinggungan dengan jaringan  Kahar Muzakkar.

Pertemuan dibuka dengan senyum dan pelukan.

“Marilah kita bersatu membangun tanah ini,” ucap Jusuf berat namun tulus.

Andi Selle tersenyum samar.

Bagi seorang raja kecil, ajakan bersatu bisa berarti satu hal: menyerahkan mahkota.

Andi Selle bukan sekadar bangsawan.

Ia adalah penguasa wilayah Mandar yang memiliki pasukan setia, jaringan ekonomi, dan pengaruh yang menjalar hingga pelosok desa.

 Di tengah situasi pasca pemberontakan DI/TII, ia memainkan garis - tipis antara loyalitas dan kekuasaan.

Baginya, kekuasaan bukan sekadar jabatan.

Itu adalah kehormatan.

Dan kehormatan tidak pernah diserahkan begitu saja.

🚙 Perjalanan yang Berubah Menjadi Neraka

Selepas pertemuan, keduanya naik ke mobil. Tujuannya disebutkan rumah dinas Bupati Pinrang.

Namun mobil berbelok.

Jalan yang ditempuh bukan jalan biasa.

Langit makin gelap.

Persawahan sunyi.

Angin sore berubah dingin.

Para pengawal mulai gelisah.

Di tikungan sunyi, bayangan lelaki bersenjata berdiri menunggu.

Lalu—

DOR! DOR! DOR!

Rentetan tembakan memecah senja.

Peluru menghujani mobil Pangdam. Kaca pecah berderai. Logam bergetar. Tubuh pengawal tersentak.

Kolonel Sugiri, Komandan CPM, roboh seketika.

Komisaris Polisi Marjaman terluka parah.

Di tengah  kekacauan itu,    M. Jusuf tetap duduk tegak.

Tenang. 

Seakan maut hanya angin lalu.

Peluru melesat, menghantam bodi mobil—namun tak satu pun merenggut nyawanya.   Para pengawal membalas tembakan.  

Baku tembak pun menghentak tanah Pinrang.

Malam turun bersama  Bau Mesiu.

 Titik Balik: 

Dari Sahabat Menjadi Musuh  Negara   Pertemuan  damai berubah menjadi tragedi berdarah.

Dari balik bayang-bayang, Andi Selle sadar—garis telah dilewati. Ia kini bukan lagi bangsawan yang dinegosiasi.

Ia adalah musuh negara.

Sementara itu, M. Jusuf selamat dari maut. Di mata prajuritnya, ia seakan kebal peluru. 

Di mata rakyat, ia menjadi simbol keteguhan tentara Republik.

Operasi militer pun digelar.

Andi Selle melarikan diri ke pegunungan Mandar. Berbulan-bulan ia berpindah- pindah, diburu dari lembah ke lembah, dari hutan ke hutan.

Hingga akhirnya, pada Agustus 1964, pelariannya berakhir.

Ajal menjemputnya dalam persembunyian. Jenazahnya baru dikembalikan kepada keluarga pada September tahun itu.(*)

Posting Komentar untuk "Kisah Epik Perseteruan Kolonel M. Jusuf dan Andi Selle di Pinrang, Tahun1964"