Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Prajurit Perempuan Terlatih di Kopassus Harumkan Nama Indonesia


Baret merah bukan sekadar simbol, melainkan kehormatan yang diraih melalui perjuangan panjang. 

Bagi anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang berdinas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), baret tersebut diperoleh melalui Uji Terampil Perseorangan (UTP), bukan kualifikasi Komando.

Dalam proses yang dikenal sebagai “tradisi pembaretan”, para Kowad harus melewati ujian fisik dan mental yang berat. 

Mereka menjalani long march dari Pusdiklatpassus Batujajar menuju hutan latihan di Situ Lembang.

 Selama kurang lebih tiga minggu, kemampuan navigasi darat, ketahanan fisik, dan kekuatan mental benar-benar ditempa. 

Proses ini juga wajib diikuti perwira non-tempur yang berdinas di Kopassus. Tak heran, setiap anggota benar-benar memahami arti perjuangan untuk mendapatkan baret merah tersebut.

Seiring waktu, rekrutmen Kopassus tidak hanya melatih Kowad menjadi atlet, tetapi juga merekrut atlet potensial untuk dibina menjadi prajurit berprestasi. 

Hasilnya, banyak atlet perempuan tangguh lahir dari satuan ini memiliki semangat pantang menyerah dan mental juara. 

Meski tidak diterjunkan ke medan operasi, mereka berjuang di medan lomba dengan disiplin dan intensitas latihan yang sama kerasnya seperti prajurit laki-laki.

Berbagai cabang olahraga digeluti, mulai dari bela diri, menembak, panahan, hingga terjun payung. 

Rutinitas mereka padat: latihan pagi hingga malam, enam hari dalam sepekan. Hari ketujuh biasanya diisi dengan istirahat dan keperluan pribadi. 

Bahkan, tak jarang mereka menerima Surat Perintah untuk mengikuti kejuaraan cabang tertentu meski sebelumnya belum mendalaminya secara khusus.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Sertu (K) Dwi Oktaviani. Ia pernah berlatih karate dari sabuk putih hingga sabuk hitam dalam enam bulan demi memenuhi kualifikasi kejuaraan.

Setelah itu, ia kembali ditugaskan mengikuti kejuaraan Yongmoodo cabang yang belum pernah ditekuninya. Dengan latihan intensif tiga bulan, ia berhasil siap bertanding.

Pada Kejurnas Bela Diri Militer Yongmoodo Kasad Cup ke-7 tahun 2017, pertandingan Okta menjadi penentu gelar juara umum bagi Kopassus. 

Meski mengalami cedera pergelangan kaki saat semifinal, ia tetap maju ke final dengan kaki dibebat dan disemprot pereda nyeri.

 Dengan tekad kuat dan semangat khas Kopassus berani, benar, berhasil Okta keluar sebagai juara kelas 55 kg putri dan memastikan kemenangan timnya.

Prestasi demi prestasi telah menjadi tradisi. Para senior dengan bangga memamerkan medali yang berjajar di dinding kamar, menjadi simbol motivasi bagi generasi berikutnya. 

Dari balik baret merah itu, tersimpan dedikasi, disiplin, dan keberanian perempuan-perempuan tangguh yang mengharumkan nama Indonesia.(*)

Posting Komentar untuk "Kisah Prajurit Perempuan Terlatih di Kopassus Harumkan Nama Indonesia"