Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Libyaku Malang, Kisah Surga Afrika Yang Dikutuk


Tahukah Kamu?, SEJARAH – Pernah ada sebuah negeri di Afrika yang rakyatnya hidup bak raja, tapi berakhir menjadi budak di tanahnya sendiri.

 Inilah kisah Libya, negara yang dulu dijuluki "Swiss-nya Afrika", namun kini hancur lebur seolah terkena kutukan karena mengingkari nikmat stabilitas yang mereka miliki.

- Fasilitas Hidup "Gak Ngotak".

Di era Muammar Gaddafi, Libya adalah surga nyata. Listrik gratis seumur hidup, pendidikan dan kesehatan gratis kualitas dunia, bensin lebih murah dari air. 

Bahkan, pengantin baru diberi modal ratusan juta rupiah untuk beli rumah, dan petani diberi tanah serta ternak cuma-cuma. Tidak ada gelandangan, tidak ada utang negara ke IMF. Mereka makmur di atas lautan minyak dan emas.

Dosa Besar: Melawan Hegemoni Dolar.

Namun, surga itu "dikutuk" bukan hanya karena Tuhan marah, tapi karena manusia yang mudah dihasut dan tak tau rasa syukur.

 Gaddafi berencana membuat mata uang tunggal Afrika berbasis Emas (Gold Dinar) untuk menggantikan Dolar AS dan Euro dalam perdagangan minyak.

 Ini ancaman mematikan bagi ekonomi Barat. Maka, narasi "Diktator Kejam" ditiupkan, rakyat diprovokasi atas nama demokrasi palsu, hingga akhirnya Gaddafi dibunuh dengan biadab oleh rakyatnya sendiri.

- Karma Instan: Dari Surga Jadi Pasar Budak.

Kini, penyesalan datang terlambat. Setelah rezim tumbang, apakah Libya jadi demokratis? Tidak. Negara itu pecah dikuasai milisi perang.

 Infrastruktur "Sungai Buatan" yang dulu mengairi gurun kini hancur. Yang paling mengerikan, PBB melaporkan munculnya kembali Pasar Perbudakan Manusia di Libya modern.

 Rakyat yang dulu dimanja subsidi, kini hidup dalam teror dan kemiskinan. *Sebuah pelajaran mahal tentang bahaya "kufur nikmat" dan tipu daya asing.(*)

Posting Komentar untuk "Libyaku Malang, Kisah Surga Afrika Yang Dikutuk"