Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Merusak Mobil Kakek Miskin, Polisi ini Tak Sadar Menabrak " Garis Merah'" Keluarga Jenderal & Jaksa

“Hancurkan semuanya. Biar dia kapok melawan otoritas!” bentak polisi korup itu dengan senyum menyeringai, mengangkat pentung lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke kaca depan sedan biru tua yang sudah tua.

Kaca depan pecah berkeping-keping di bawah terik matahari siang. Pria berusia 78 tahun itu terjatuh berlutut di aspal panas, tangannya gemetar.

“Tolong, Pak… itu satu-satunya mobil saya. Saya pakai untuk ke dokter,” pintanya dengan suara pecah.

Polisi itu menendangnya, mendorongnya menjauh seolah-olah dia hanya sampah di pinggir jalan. 

Yang tidak ia ketahui—dan tak seorang pun di jalan itu tahu—ia sedang mempermalukan ayah dari seorang kolonel TNI dan seorang jaksa negara. Ketika kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat baginya.

“Mati saja kau, orang tua tak berguna!” teriak polisi itu beberapa menit sebelumnya.

Namanya Bripka Martin Rocha, terkenal di seluruh Kecamatan San Miguel Utara karena kekejamannya.

 Saat si kakek mencoba menjelaskan bahwa ia masih punya tenggat waktu untuk mengurus surat-surat kendaraannya, Rocha menggeram:

“Maksudmu aku pembohong?!”

Rocha mengangkat pentung dan menghantam kap mobil. Satu hantaman keras. Lalu satu lagi. Yang ketiga memecahkan lampu depan. Hantaman keempat menghancurkan kaca depan sepenuhnya.

“Cukup, Pak! Tolong hentikan!” teriak Pak Ernesto. “Mobil itu saya beli dari uang pensiun saya. Saya tidak berbuat jahat pada siapa pun!”

“Belajarlah hormat pada otoritas, kakek tak berguna!

Ketika penganiayaan selesai, mobil itu tinggal rangka besi yang remuk. Rocha meludah ke tanah lalu pergi, meninggalkan Pak Ernesto berlutut di tengah pecahan kaca. Dari kejauhan, seorang pemuda diam-diam merekam semuanya dengan ponselnya.

Butuh beberapa menit bagi Pak Ernesto untuk berdiri kembali. Rasa malu yang ia terima lebih menyakitkan daripada nyeri di tubuhnya.

 Ia mengeluarkan ponsel lamanya dari saku. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya menekan nomor yang jarang ia hubungi.

Ratusan kilometer jauhnya, di sebuah markas militer di utara negeri, Kolonel Alejandro Valdez segera mengangkat telepon.

“Ayah.”

Suara sang kakek bergetar.

“Anak… Ayah tidak ingin merepotkan… mobil Ayah dirusak polisi.”

Kolonel itu langsung berdiri. Keheningan yang muncul jauh lebih menakutkan daripada teriakan.“Ayah, dengarkan saya,” suaranya tegas. “Siapa nama polisinya?”

“Ayah tidak tahu nama lengkapnya. Tinggi… katanya marganya Rocha.”olonel memejamkan mata.“Jangan ke mana-mana. Aku akan menelepon seseorang.”

Setelah menutup telepon, ia menekan nomor lain. Di Jakarta, seorang jaksa negara baru saja keluar dari gedung pengadilan ketika ponselnya berdering—Jaksa Mariana Valdez.

Kak,” kata sang kolonel tanpa basa-basi. “Mobil Ayah dirusak polisi sektor.”Jaksa itu berhenti melangkah.“Beri aku sepuluh menit.”

Sementara itu, di kantor polisi setempat, kepala polisi menonton video penganiayaan itu di ponselnya sambil tertawa kecil, mengira ini hanya satu lagi insiden yang bisa ditutup dengan uang dan ancaman.

“Kita bereskan nanti,” gumamnya.

 “Seperti biasa.”

Namun kali ini, tidak akan seperti biasa.Saat ia tertidur pulas malam itu, namanya sudah mulai dibaca di kantor-kantor tempat kesalahan tidak pernah dimaafkan. 

Badai yang sesungguhnya… baru saja dimulai. 

Posting Komentar untuk "Merusak Mobil Kakek Miskin, Polisi ini Tak Sadar Menabrak " Garis Merah'" Keluarga Jenderal & Jaksa"