Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, aroma kayu tua dan kopi dingin memenuhi ruangan—sebuah tempat di mana janji-janji berakhir dalam sunyi, dan terkadang, harga diri terkikis habis.
Aku duduk sendirian di meja pembela. Tanganku tertelungkup di pangkuan. Aku mengenakan terusan biru sederhana yang kubeli saat hidupku masih baik-baik saja—saat aku mengira keluargaku utuh.
Di meja sebelah, suamiku, Adrian Pratama, seorang pengusaha real estate kaya di Sudirman Central Business District (SCBD), duduk dengan pongah.
Di sampingnya ada pengacara mahalnya—mengenakan setelan abu-abu pesanan khusus, penuh percaya diri.
Adrian bersandar, santai, hampir tertawa—seolah persidangan ini hanyalah pertemuan bisnis yang pasti ia menangkan.
Saat hakim meminta para pihak untuk memperkenalkan diri, pengacara Adrian segera berdiri dengan penuh wibawa.
Ketika giliran namaku dipanggil, aku berdiri sendirian."Saya tidak memiliki perwakilan hukum, Yang Mulia," ucapku tenang.
Seketika bisik-bisik memenuhi ruangan. Adrian bahkan tidak mencoba menyembunyikan tawa mengejeknya.
Ia bersandar di kursi, menyilangkan tangan, dan menggelengkan kepala seolah merasa kasihan.
"Tidak punya uang. Tidak punya kuasa. Tidak punya kawan..." ucapnya cukup keras agar terdengar semua orang.
Ia condong ke arahku dengan senyum tajam. "Siapa yang akan menyelamatkanmu sekarang, Clarisse?"
Kata-katanya menyakitkan, tapi aku tidak menunjukkan emosi. Bagi Adrian, ini adalah bukti terakhir bahwa ia menang.
Ia memiliki rumah mewah di Pondok Indah. Ia memiliki semua rekening bank. Ia memiliki koneksi.
Selama dua belas tahun pernikahan kami, perlahan ia merampas duniaku—teman, pekerjaan, penghasilan sendiri—sampai hidupku hanya berputar di sekelilingnya.
Ketika aku memergoki perselingkuhannya dengan karyawan muda dan meminta cerai, ia segera membekukan semua rekening kami. Ia ingin melihatku putus asa. Hancur.
Persidangan dimulai. Satu per satu pengacaranya memaparkan tuntutan Adrian: hak milik penuh atas rumah, hak asuh utama atas putri kami, Mika, dan uang penyelesaian yang nominalnya seperti sedekah jika dibandingkan kekayaannya.
Ia memperhatikanku, menunggu air mata, menunggu gemetar, menunggu kehancuranku.
Ia tidak melihat apa-apa.
Aku hanya mendengarkan dalam diam. Menghadapi ini tanpa pengacara bukanlah sebuah kesalahan—ini adalah risiko yang terencana.
Hakim menatapku, ragu-sejenak, mungkin mengira aku akan meminta penundaan sidang.Sebelum aku sempat bicara, pintu ruang sidang terbuka.
Suaranya pelan.
Tapi cukup untuk membuat segalanya terhenti.
Seorang wanita masuk—tinggi, berambut perak, dengan aura yang tidak bisa diabaikan. Ia mengenakan setelan jas warna arang yang memancarkan otoritas. Berdiri tegak. Tatapannya kokoh.
Bisik-bisik terhenti. Bahkan hakim pun mendongak hormat.
Adrian menoleh.
Dan saat itulah warna di wajahnya memudar seketika.
Senyumnya hilang seperti asap. Matanya membelalak—bukan hanya karena terkejut.
Tapi karena ketakutan.
Karena akhirnya, ia mengerti siapa ibuku sebenarnya.
Ibu Valeria Kusuma—mantan Hakim Agung Mahkamah Agung Republik Indonesia. Wanita yang pernah menjatuhkan nama-nama paling berkuasa di negeri ini.
Dan pada detik itu, Adrian tahu—
Dunia sempurna yang ia bangun di atas kebohongan dan kontrol…
…akan segera runtuh berkeping-keping.

Posting Komentar untuk "Suamiku Tertawa Datang Tanpa Pengacara, Ia Tidak Tahu Siapa Ibuku"