Surat Terbuka untuk Bapak Presiden
Republik Indonesia: Tentang Harga Sebuah Pena yang Dibayar dengan Nyawa
Kepada Yang Terhormat,
Bapak Presiden Republik Indonesia
Di Istana Negara
Perihal: Tragedi Buku dan Pena — Jeritan dari Akar Rumput Pendidikan
Dengan hormat,
Bapak Presiden, hari ini kami menulis bukan untuk merayakan angka pertumbuhan ekonomi atau memuji deretan infrastruktur yang megah. Kami menulis dengan hati yang berat, membawa kabar duka tentang seorang anak sekolah dasar yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli buku dan pena.
Kejadian ini adalah tamparan keras bagi mandat Konstitusi kita. UUD 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan pemerintah wajib membiayainya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan realita yang berbanding terbalik:
Mitos Pendidikan Gratis: Kita sering mendengar narasi pendidikan gratis, namun biaya-biaya "tersembunyi" untuk alat tulis, seragam, dan buku penunjang nyatanya masih menjadi beban yang mematikan bagi keluarga prasejahtera.
Lubang pada Jaring Pengaman: Tragedi ini membuktikan bahwa bantuan pendidikan belum sepenuhnya tepat sasaran. Masih ada anak-anak yang terjatuh di antara celah birokrasi, merasa sendirian, dan akhirnya putus asa.
Krisis Kemanusiaan di Ruang Kelas: Sekolah seharusnya menjadi tempat menyemai harapan, bukan tempat di mana kemiskinan menjadi beban mental yang tak tertahankan bagi seorang bocah.
Bapak Presiden,
Kami memohon agar peristiwa ini tidak hanya berakhir sebagai statistik di atas meja kerja Anda. Kami mendesak adanya evaluasi total terhadap distribusi bantuan pendidikan. Pastikan negara hadir secara nyata hingga ke meja-meja belajar di pelosok negeri.
Jangan biarkan ada lagi anak Indonesia yang merasa bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan ekonomi. Jangan biarkan masa depan bangsa ini patah hanya karena sebatang pena yang tak terbeli.
Rakyat tidak butuh angka-angka hebat jika di baliknya ada nyawa anak bangsa yang dikorbankan. Pendidikan adalah hak, bukan kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya biaya.
Hormat kami,
Suara Rakyat yang Peduli

Posting Komentar untuk "Tragedi Buku dan Pena — Jeritan dari Akar Rumput Pendidikan"