Oleh: Bahaking Rama.
Kelong Pendidikan Religius (2)
Ketika Nabi Muhammad Swa bersama sahabatnya disuatu majelis, datanglah Malaikat Jibril (dalam wujud manusia berpakaian putih) menanyakan tiga hal kepada Nabi Muhammad. Pertanyaan pertama tentang iman, yang kedua tentang islam, dan yang ketiga tentang ihsan. Ketiga hal ini menjadi ajaran pokok dalam Islam.
Ketika ajaran tersebut di atas didakwahkan pada komunitas tertentu, maka diharapkan komunitas itu dapat memahami dengan mudah. Agar supaya suatu ajaran mudah dipahami, maka salah-satu metode memudahkan pemahaman adalah metode Al-Amtsal atau Tamsil (perumpamaan).
Ketika Islam diterima pada komunitas Bugis-Makassar diawal abad 17 Miladia, maka ulama (Tupanrita) kemudian menggunakan merode tamsil dalam bentuk Kelong supaya ajaran pokok agama Islam mudah dipahami. Bunyi kelong sebagai berikut.
ᨄᨚᨀᨚ ᨒᨚᨄᨚᨕ ᨑᨗᨒᨗᨊᨚ /
ᨈᨒᨘ ᨒᨓᨑ ᨙᨒᨀᨚᨊ /
ᨊᨄᨒᨒᨂᨗ /
ᨔᨗᨀᨘᨈᨘ ᨅᨚᨙᨊᨊ ᨒᨗᨊᨚ
POKO’ LOMPOA RI LINO (Pohon besar di dunia ini)
TALLULLAWARA’ LEKO’NA (Tiga lembar daunnya)
NAPA’LA’LANGNGI (sebagai tempat berteduh, bernaung, dan melindungi diri dari kejahatan),
SIKUNTU BONENA LINO (oleh semua manusia dan penghuni bumi).
Nilai pendidikan dalam kelong ini, antara kain:
1) Yakini bahwa hanya agama Islam yang diredaai Allah.
2) Pegang teguh agama Islam hingga akhir hayat (jangan terpengaruh dari banyak godaan untuk keluar dari Islam atau murtad).
3) Pahami bahwa ada tiga aspek ajaran pokok agama Islam, yakni aqidah (iman), Islam (ibadah), dan ihsan (akhlak).
4) Perkokoh iman, permantap ibadah-muamalah, dan permulia akhlak.
Makna dari Kelong di atas adalah: Agama Islam diibaratkan sebuah pohon besar. Ada tiga lembar daunnya, itulah diibaratkan ajaran pokok Islam, yakni:
1) aqidah/ iman,
2) Islam/ ibadah-muamalah, 3) Ihsan/ akhlak.
Ketiga daun atau ajaran pokok ini sebagai tempat berteduh, bernaung atau melindungi diri dari kekafiran, kejahatan, dan perbuatan dosa.
Manusia wajib mengamalkannya supaya terlindung dari dosa, kejahatan, dan supaya mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
Hadis riwayat Muslim menjelaskan, bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata. “Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam…
Tidak seorang pun di antara kami (para sahabat Nabi) yang mengenalnya… lalu laki-laki itu duduk di hadapan Nabi Saw seraya berkata.
1. “Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tantang Islam. Nabi Saw menjawab, Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Swt dan Muhammad Saw adalah utusan-Nya, engkau menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan haji ke Baitullah Al-Haram jika mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
2. Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang iman. Nabi Saw menjawab, Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah Swt, malikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasl-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.”
3. Wahai Muhammad, Jelaskan kepadaku tentang ihsan, Nabi Saw menjawab, Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu.
Setiap pertanyaan yang dijawab oleh Nabi, dibenarkan oleh yang bertanya, sehingga Umar dan sahabat lainnya terheran, mengapa sipenanya membenarkan semua jawaban Nabi Saw.
Lalu laki-laki itu pergi. Umar dan para sahabatpun terdiam sejenak… lalu Nabi bersabda, Dia (laki-laki yang bertanya tadi) adalah Malaikat Jibril, yang datang untuk mengajarkan agama Islam ini kepada kalian.
Jibril juga berkata kepada Nabi Saw, “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?.” Nabi menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.
” Jibril lalu berkata, "Jelaskan kepadaku tanda-tandanya” Nabi berkata “Jika seorang budak wanita melahirkan Tuannya dan jika mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.
” Hal ini memberi makna, bahwa jika budak wanita melahirkan karena hubungan dengan majikannya, lalu anak yang dilahirkan itu menjadi pejabat (Tuan dari ibunya) dan orang miskin tanpa alas kaki dan pakaian.
Kemudian menjadi kaya raya, lalu berlomba membangun gedung-gedung mewah bagai istana, maka itu pertanda kiamat sudah dekat. Apakah tanda itu sudah terjadi? Perlu pengamatan mendalam.
Ketiga aspek ajaran dasar agama Islam di atas, yakni, iman/ aqidah, islam/ ibadah-muamalah, dan ihsan/ akhlak, wajib dipahami secara mendalam dan diamalkan sungguh-sungguh.
Dengan demikian, kehidupan beragama setiap orang menjadi kuat, membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lilalamin) dengan kalimah Tayyibah yang diumpamakan laksana pohon yang baik, yakni akarnya kokoh menghunjam ke dalam tanah (diibaratkan aqidah yang kokoh), batangnya kuat menjulang (diibaratkan ibadah yang mantap), dan buahnya lebat dan lezat (diibaratkan akhlak yang agung), sebagaimana tergambar dalam QS. Ibrahim, 14 : 24-25 yang terjemahnya sebagai berikut:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat atau tanda yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan batangnya (menjulang) ke langit.
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Hanyalah dengan ajaran keimanan yang diikrarkan sebagai pengakuan seorang hamba, yakni; Asyhadu an laa ilaaha illallaah (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah) Wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah (dan aku bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah) kemudian diperkuat rasa kepasrahan dan keyakinan dengan kalimat “Radhitu billahi rabba (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku) Wabil Islami dina (dan ridha Islam sebagai agamaku) Wabi Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan (dan ridha Muhammad sebagai Nabiku dan Rasul Allah) barulah seseorang resmi dan diakui sebagai muslim atau penganut agama Islam.
Semoga ajaran Islam diamalkan dengan sungguh-sungguh.
Jln. Bonto Tangnga No. 35 Pao-pao, Kamis 2 Ramadhan 1447 H / 19 Pebruari 2026 M.

Posting Komentar untuk "TIGA ASPEK POKOK AJARAN ISLAM "