Di sebuah desa kecil bernama Desa Suka Makmur enam anak perempuan tumbuh bersama. Mereka adalah sahabat sejak kecil.
Setiap sore sepulang sekolah, mereka sering bermain di sawah milik orang tua mereka. Kaki mereka penuh lumpur, pakaian basah oleh air sawah, tapi tawa mereka selalu terdengar paling keras di antara pematang padi.
Tak ada yang menyangka, anak-anak petani yang dulu bermain di sawah itu suatu hari akan mengubah nasib mereka.
Orang tua mereka hanyalah petani sederhana. Setiap hari berangkat subuh, pulang menjelang magrib dengan tubuh penuh lumpur.
Hasil panen kadang cukup, kadang juga tidak. Tapi satu hal yang selalu mereka tanamkan pada anak-anaknya:
“Kalian harus sekolah tinggi… supaya hidup kalian lebih baik dari kami.”
Kata-kata itu terus melekat di hati keenam gadis desa itu.
Namun perjalanan mereka tidak mudah.
Ada yang hampir berhenti sekolah karena biaya. Ada yang harus membantu orang tua di sawah sebelum berangkat ke sekolah.
Bahkan ada yang pernah berjalan kaki beberapa kilometer hanya untuk bisa belajar.
Tapi mereka tidak menyerah.
Tahun demi tahun berlalu…
Takdir perlahan mengubah hidup mereka.
Salah satu dari mereka berhasil menjadi pramugari, terbang mengelilingi berbagai kota dan negara.
Sahabat lainnya menjadi dosen, mengajar mahasiswa di kampus besar.
Ada yang memilih jalan pengabdian menjadi tentara wanita (Kowad).
Satu lagi menjadi pengusaha sukses yang membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
Sahabat mereka yang lain menjadi ustadzah, mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Dan yang paling mengejutkan, salah satu dari mereka kini dipercaya menjadi camat yang memimpin wilayahnya.
Suatu hari mereka kembali berkumpul di depan Balai Desa Suka Makmur.
Tempat yang dulu hanya mereka lihat sebagai anak desa biasa… kini menjadi saksi perjalanan hidup mereka.
Mereka berdiri berdampingan, mengenakan seragam profesi masing-masing.
Di mata mereka masih ada kenangan masa kecil:
sawah yang luas, lumpur di kaki, dan mimpi yang dulu terasa sangat jauh.
Kini desa itu bangga pada mereka.
Enam sahabat…
Enam jalan hidup berbeda…
Namun satu asal yang sama.
Mereka semua lahir dari rahim seorang petani.
Dan kisah mereka kini menjadi inspirasi bagi banyak orang di desa itu bahwa:
**Anak petani pun bisa bermimpi setinggi langit

Posting Komentar untuk "Kisahnya Sang Ibu! Enam Wanita Ini Kini Jadi Pramugari, Tentara, Hingga Camat… Kisahnya Bikin Merinding!"