Dr. Mulyadi berpendapat bahwa kritik tajamnya bukan sekadar “narasi provokatif”, tetapi sebuah diagnosis akademis terhadap melemahnya fondasi negara.
Menurut teori negara gagal, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa negara mulai kehilangan kapasitasnya untuk menjalankan fungsi utama, seperti efektivitas pemerintah, legitimasi publik, pelayanan dasar, dan penegakan hukum.
Indikator semacam ini sering dipakai dalam literatur untuk menilai apakah sebuah negara berada dalam kondisi fragile atau failed state, termasuk menyempitnya kebebasan sipil dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga publik.Dalam konteks Indonesia, pernyataan Mulyadi mencerminkan kekhawatiran mendalam atas krisis kepercayaan dan legitimasi politik yang terlihat dalam dinamika sosial politik belakangan ini.
Gelombang protes seperti #IndonesiaGelap yang berlangsung luas di berbagai daerah menunjukkan ketidakpuasan signifikan atas kebijakan pemerintah, yang dipandang sebagian warga tidak responsif terhadap kebutuhan publik.
Di samping itu, laporan internasional menunjukkan penurunan peringkat indeks persepsi korupsi Indonesia dan kekhawatiran lembaga pemeringkat global terhadap kualitas tata kelola dan transparansi pemerintah, yang dapat memperkuat narasi Mulyadi tentang melemahnya kapasitas pemerintahan untuk mempertahankan kepercayaan publik.
Menurut pandangan Mulyadi, fenomena‑fenomena ini bukan sekadar kritik politik biasa tetapi indikator struktural yang perlu diperhatikan dalam penilaian terhadap masa depan negara.
Ia memandang bahwa ketika legitimasi pemerintah terus dipertanyakan dan kepercayaan publik menurun drastis, stabilitas sosial dan politik akan terancam dan dalam kerangka teori politik.
Kondisi semacam itu bisa menunjukkan bahwa suatu negara sedang berada pada jalur yang serius untuk mengalami disfungsi kelembagaan atau bahkan kolaps jika tidak ada perbaikan fundamental.(*)

Posting Komentar untuk "Pemerintah Mau Berpidato Dimana-mana Rakyat Sudah Tidak Percaya"