Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Perang di Iran Semakin Tidak Terkendali, Membuat Donald Trump Bertambah Pusing


Di balik podium Gedung Capitol, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mungkin boleh saja sesumbar bahwa perang melawan Iran adalah kemenangan kilat. 

"Kita menang, dalam satu jam pertama semuanya berakhir," cetus Trump mengeklaim kedigdayaan militer Washington.

 Namun, kenyataan di lapangan dan pasar energi dunia justru menceritakan kisah yang jauh lebih kelam dan bergejolak.

Alih-alih berakhir dalam sekejap, serangan gelombang pertama AS dan Israel ke Iran pada hari Sabtu justru memicu efek domino yang tak terkendali. 

Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah, membuat kawasan tersebut kini menjadi bara api yang siap meledak kapan saja.

Kekhawatiran terbesar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur nadi yang menyalurkan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia. Jika jalur ini tertutup dalam waktu lama, para analis memperingatkan bahwa stabilitas energi global akan runtuh. 

Saat ini saja, harga minyak mentah sudah melesat melampaui US$100 per barel, sebuah angka psikologis yang mulai mencekik ekonomi.

Para ahli memprediksi skenario terburuk: jika harga minyak menyentuh US$140 per barel dan bertahan sepanjang tahun, jurang resesi bagi ekonomi AS bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kepastian.

Dampak perang ini mulai menjalar langsung ke kantong warga Amerika. Harga rata-rata bensin nasional telah melonjak menjadi US$3,59 per galon, naik sekitar 65 sen sejak Februari lalu. 

Jika perang berlarut-larut, setiap minggunya harga bensin berpotensi naik hingga 40 sen tambahan per galon.

Situasi ini menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam posisi yang sangat sulit atau "buah simalakama". 

Di satu sisi, ada ancaman stagflasi—kondisi mengerikan di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang mandek dan angka pengangguran yang meroket.

Jika The Fed menurunkan suku bunga untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi, mereka berisiko memperparah inflasi. Sebaliknya, menaikkan suku bunga demi menekan harga justru bisa mematikan lapangan kerja.

Kini, dunia hanya bisa menanti apakah ketegangan ini akan mereda atau justru meluas menjadi konflik regional yang berkepanjangan. 

Kecepatan normalisasi pengiriman minyak di Selat Hormuz menjadi kunci utama agar ekonomi global tidak terperosok lebih dalam ke dalam krisis.

Di tengah klaim kemenangan Trump, bayang-bayang krisis energi dan resesi ekonomi kini justru menjadi "sakit kepala" nyata yang harus dihadapi oleh sang Presiden dan seluruh dunia.[] (etm/bcn)

Posting Komentar untuk "Perang di Iran Semakin Tidak Terkendali, Membuat Donald Trump Bertambah Pusing"